Senin, 15 Juli 2013

Pantai Jamursba Medi di Kabupaten Tambrauw – Papua Barat, Pantai Terindah di Dunia

Bagi saya dan teman-teman lainnya satu rombongan, berada di Pantai Jamursba Medi bagaikan sebuah mimpi indah saja. Padahal kami sering berkunjung ke pantai-pantai yang ada di Pulau Bali, Lombok, Banyuwangi, Timor, Sulawesi, bahkan ke pantai Great Barrier Reef di Australia, Borocay di Philipina, atau Gold Coast di Amerika. Namun, pantai-pantai tersebut tidak dapat mengalahkan keindahan pantai Jamursba Medi. Pasir putih pantai Jamursba Medi membentang jauh dan lebar, sangat panjang, sampai-sampai batas ujungnya tidak dapat tertangkap oleh mata bugil. Butiran pasir putihnya sangat halus menghampar dengan kadang diselingi pasir berbentuk menyerupai kristal seperti pasir putih yang ada di pantai Kuta Lombok. Dan tidak hanya itu, banyak sekali perpaduan dan harmoni alam yang tercipta di pantai Jamursba Medi ini. Satu sisi adalah bibir samudera Pasifik yang jernih dan membiru dan di sisi lainnya adalah menjulang tegak bukit hutan perawan yang hijau dan natural. Pantulan kilau dari sinar matahari yang menimpa permukaan laut dengan atap langit yang biru bersih. Suara orchestra deburan ombak dipadu dengan suara berbagai burung endemis Papua. Kalau malam, harmoni itu ditambah lagi oleh lenguhan suara rusa, babi hutan, dan kanguru yang berlalu lalang ke pantai untuk mencari makan.

Panjang garis pantai Jamursba Medi sekitar 18 km dengan lebar pasir putihnya antara 100 – 500 m. Suatu hamparan pasir putih yang luas. Kami berjalan kaki dari ujung ke ujung, membutuhkan waktu 2 – 3 jam namun itu tak terasa lama atau melelahkan karena kami senang dapat menikmati pemandangan di kanan kiri yang spektakuler indahnya. Satu hal lagi, di pantai ini seolah tidak ada penghuninya, karena tidak seorang-pun terlihat ada disitu. Bagaimana tidak terlihat ada manusia di Jamursba Medi? Jamursba Medi adalah bagian dari distrik Abun (pengertian distrik sama dengan kecamatan) yang dihuni oleh suku Abun yang merupakan salah satu suku asli Papua. Hasil sensus 2011, jumlah penduduk distrik Abun ini sebanyak 596 jiwa atau 134 KK. Mereka menempati kampung: Saubeba, Warmandi, Wau, dan Weyaf. Suku Abun ini terdiri dari beberapa marga/keret. Dan yang menguasai pantai Jamursba Medi adalah marga Yessa. 

Pantai Jamursba Medi adalah bagian dari wilayah kabupaten Tambrauw yang merupakan hasil pemekaran dari kabupaten Sorong dan kabupaten Manokwari yang berada di provinsi Papua Barat. Bagaimana bisa jarang ketemu orang di Tambrauw? Kab. Tambrauw luasnya 517.975 km2 dengan jumlah penduduk hanya 29.000 jiwa atau kepadatannya sekitar 6,2 jiwa/km2 saja. Jadi wajar saja kalau sulit bertemu dengan penduduk di pantai Jamursba Medi ini.

Pantai Jamursba Medi selain keindahan alamnya yang luar biasa juga sebagai tempat peneluran (nesting area) penyu belimbing terbesar di dunia. Dengan jenis pasir yang cocok dan bentangannya yang luas serta masih sepi sehingga sangat disukai oleh penyu belimbing untuk bertelur disini. Kami menyaksikan sendiri (11 Juli 2013) bagaimana belasan penyu belimbing yang berukuran panjang tubuh setidaknya 2 m melakukan peneluran di pantai ini.

Potensi keindahan alam pantai Jamursba Medi belum banyak dimanfaatkan karena faktor aksesbilitasnya. Tiket penerbangan Jakarta – Sorong PP sekitar Rp 6 juta. Dari kota Sorong ke Sausapor sebagai ibu kota Kab. Tambrauw bisa menggunakan jalan darat atau jalur laut. Lewat jalan darat, anda bisa menggunakan jasa mobil atau kendaraan roda empat dengan tarif Rp 250 ribu per orang. Jenis mobil yang digunakan adalah jenis mobil double cabin. Karena hanya jenis mobil ini yang dapat melahap jalan tanah yang terkadang becek sehabis hujan yang tersedia dari kota Sorong ke Sausapor. Waktu tempuh jalan darat sekitar 4 jam dalam kondisi normal. Dari Sausapor ke pantai Jamursba Medi harus menyewa perahu atau speed boat, karena belum terhubungkan oleh jalan darat. Kalau mau menyewa speed boat, tarifnya sekitar Rp 10 juta. Kami menggunakan speed boat 800 pk membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Apabila menggunakan jalur laut dari Sorong ke Sausapor di Tambrauw, dahulu bisa menggunakan kapal perintis, namun saat ini kapal perintis sudah tidak beroperasi lagi. Saat ini cara yang paling mudah dan satu-satunya untuk bisa ke langsung ke lokasi pantai Jamursba Medi adalah dengan menyewa speed boat. Tarif sewa speed boat kapasitas 8 orang dengan mesin 400 pk untuk durasi sehari dua hari satu malam (36 jam) atau perjalanan pulang pergi dengan menginap semalam di lokasi, sekitar Rp 35 juta. Mahal memang, karena bahan bakar minyak jenis premium di Tambrauw saat ini Rp 25 ribu/liter padahal harga resmi di SPBU Rp 6.500/liter.

Mengembangkan potensi pantai Jamursba Medi untuk menjadi kegiatan yang ekonomis -sangat sulit-. Karena pembangunan infrastruktur dasar yang diperlukannya, akan membutuhkan biaya yang sangat besar, dan itu secara hitung-hitungan tidak akan ekonomis atau antara biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan manfaat yang akan diperolehnya. Sehingga pengembangan potensi pantai Jamursba Medi untuk kegiatan ekonomi yang membutuhkan infrastruktur masif, tidak dapat dilakukan dalam waktu dekat dan cepat. Alternatif rasional pemanfaatan potensi pantai Jamursba Medi yang dapat dilakukan dalam waktu dekat dan tentunya yang harus dapat berdampak positif terhadap kesejahteraan penduduknya adalah melalui konservasi dan wisata minat khusus (dalam Undang-Undang No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, konservasi adalah salah satu cara pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil). Sedangkan untuk wisata minat khusus, jenis wisata ini banyak diminati oleh turis berkantong tebal yang tidak segan untuk merogoh koceknya 'dalam-dalam' untuk memuaskan keingintahuannya. Wisata minat khusus yang dapat dikembangkan di Jamursba Medi atau di Kab. Tambrauw secara umum, adalah: menyaksikan penyu bertelur, menikmati pantai pasir putih, menyelam, hiking, menyaksikan peralatan  perang peninggalan tentara Sekutu pada Perang Dunia II, budaya suku Abun, dan masih banyak lagi objek-objek wisata lainnya. Untuk pengembangan wisata minat khusus ini, kewajiban yang harus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tambrauw adalah membangun air strip atau merevitalisasi lapangan terbang peninggalan Perang Dunia II yang sudah ada. Kalau dari Sorong ke Tambrauw sudah tersedia jalur penerbangan komersial walaupun dengan pesawat ukuran kecil, saya yakin pariwisata atau ekonomi masyarakat Tambrauw akan jauh meningkat.
Titik pendaratan di pantai Jamursba Medi
'Rumah Batu' penanda di pantai Jamursba Medi
Menyusuri pantai Jamursba Medi
Pantai Jamursba Medi
Pasir putih di pantai Jaamursba Medi membentang 18 km
sesekali bertemu batu granit
Tipe pasir yang disukai tempat bertelur penyu belimbing
Jamursba Medi tempat peneluran penyu belimbing terbesar di dunia






Tidak ada komentar:

Posting Komentar