Senin, 30 September 2013

Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil untuk Penetapan Kawasan Konservasi-nya.

Tentunya berbicara kawasan konservasi (KK) di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, tidak bisa lepas dari kontek Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K) dan akan merunut kepada Undang-Undang No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Kenapa demikian? Karena ada KK lain yang dibentuk berdasarkan ketentuan perundangan lainnya juga. Misalnya kawasan konservasi perairan (KKP) yang merunut kepada Undang-Undang No. 45 tahun 2009 j/q Undang-Undang No. 31 tahun 2004 tentang Perikanan. Tulisan ini akan lebih focus kepada KK berdasarkan Undang-Undang no 27 tahun 2007.

RZWP-3-K merupakan arahan pemanfaatan sumber daya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Pemerintah Provinsi dan/atau Pemerintah Kabupaten/Kota (pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No.27 tahun2007). RZWP-3-K wajib disusun oleh Pemerintah Daerah (Pasal 7 ayat (3) UU no 27/2007) dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Pasal 9 ayat (5) UU no 27 tahun 2007). RZWP-3-K provinsi terdiri atas: pengalokasian ruang dalam kawasan pemanfaatan umum, kawasan konservasi, kawasan strategis nasional tertentu, dan alur laut (pasal 10 huruf (a) UU no 27 tahun 2007) dan RZWP-3-K kab/kota berisi arahan tentang: alokasi ruang dalam rencana kawasan pemanfaatan umum, rencana kawasan konservasi, rencana kawasan strategis nasional tertentu, dan rencana alur (pasal 11 ayat 1 huruf (a) UU no 27 tahun 2007). Artinya RZWP-3-K adalah arahan pemanfaatan sumber daya atau ‘wadah’ apabila pemerintah, pemerintah daerah, pengusaha, masyarakat, dan stakeholder lainnya yang merencanakan membuat suatu kegiatan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil maka harus di ‘wadah’ atau kawasan yang sesuai dengan peruntukannya. Pemerintah hanya menyiapkan Norma Standar Prosedur dan Kriteria (NSPK) yang diantaranya adalah penyediaan pedoman umum, petunjuk teknis, dan lainnya. Sehingga Pemerintah Daerah dalam menyusun RZWP-3-K sebagai kewajibannya memiliki pedoman yang jelas dan pasti.

Untuk KK dalam RZWP-3-K, baik tingkat provinsi maupun kab/kota disusun hanya sampai pada alokasi ruang untuk level kawasan saja tidak sampai kepada level zona apalagi sub zona, karena: pertama; ada Peraturan Menteri no. 17 tahun 2008 tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan pulau-pulau kecil yang mengatur tentang itu, kedua; kita belum tahu tahu katagori dan jenis KK apa yang akan dibuat di kawasan konservasi tersebut.

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 17 tahun 2008 menyebutkan katagori KK pesisir dan pulau-pulau kecil terdiri dari:

a.   Kawasan Konservasi pesisir dan pulau-pulau kecil atau KKP3K,

b.   Kawasan Konservasi Maritim atau KKM,

c.    Kawasan Konservasi Perairan atau KKP, dan

d.   Sempadan Pantai.

Jenis KKP3K terdiri dari:

a.   Suaka pesisir,

b.   Suaka pulau kecil

c.    Taman pesisir, dan

d.   Taman pulau kecil.

Katagori dan jenis KK pesisir dan pulau-pulau kecil lebih di-karena-kan oleh kriteria-kriteria dengan fungsi tertentu yang dimilikinya.

Bagaimana KKP3K dikelola? Permen KP no. 17 tahun 2008 pada ayat (1) berbunyi : pola pengelolaan KKP3K dilakukan dengan sistem zonasi dan pada ayat (2) nya berbunyi: sistem zonasi yang dimaksud, terdiri dari:

a.   Zona inti;

b.   Zona pemanfaatan terbatas; dan/atau

c.    Zona lainnya sesuai dengan peruntukan kawasan.

Siapakah yang berwenang/berkewajiban membuat zonasi tersebut? Permen KP no. 17 tahun 2008 dalam pasal 30 ayat (3) menyebutkan: perencanaan pengelolaan KKP3K untuk KK nasional dipersiapkan dan disusun oleh unit pengelola KK yang dinilai dan disahkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, dan dalam pasal 30 ayat (4) nya menyebutkan;  perencanaan pengelolaan KKP3K untuk KK prov/kab/kota dipersiapkan dan disusun oleh unit pengelola KK yang dinilai dan disahkan oleh gubernur/bupati/wali kota sesuai dengan kewenangannya.

Ternyata tugas unit pengelola KK tidak mudah karena mereka yang harus membuat zonasi di KK dan data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun zonasi itu sangat banyak sehingga memerlukan waktu dan pembiayaan yang tidak sedikit. Tidak hanya itu, mereka-pun memerlukan NSPK yang cukup untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Sayangnya, NSPK yang diperlukan itu, ketersediannya masih terbatas.
 
Suaka Pesisir adalah tempat hidup dan berkembang biaknya suatu jenis ikan yang khas, unik, dan langka
 
Taman pesisir adalah pesisir yang mempunyai daya tarik SDA hayati, fomasi geologi yang dapat dikembangkan untuk berbagai jenis kegiatan
 

Senin, 16 September 2013

Pantai Pangumbahan di Kab. Sukabumi Sebagai Kawasan Konservasi Penyu Hijau

https://www.scribd.com/document/318259254/Rencana-Pengelolaan-Dan-Zonasi-Kawasan-Konservasi-Taman-Pesisir-Pantai-Penyu-Pangumbahan-Sukabumi-Jawa-Barat

https://www.scribd.com/document/318260307/Keputusan-Bupati-Sukabumi-Tentang-RPZ-Kawasan-Konservasi-Pantai-Penyu-Pangumbahan


Pantai Pangumbahan yang satu garis pantai dengan pantai Ujung Genteng di Kab. Sukabumi Jawa Barat merupakan salah satu tempat bertelurnya (nesting area) penyu hijau (Chelonia mydas). Pantai dengan kemiringan landai yang tersusun dari material lepas, tekstur pasirnya yang padat atau tidak mudah runtuh ketika penyu menggali lubang untuk tempat bertelurnya, dan memiliki suhu yang hangat konsisten, itulah kondisi yang disukai penyu untuk dijadikan tempat bertelurnya. Selain itu, pantai dengan lekuk ke dalam yang menyerupai teluk kecil, juga menjadi faktor disukai tidaknya suatu pantai untuk menjadi tempat peneluran penyu. Karena dengan bentuk pantai yang melekuk ke dalam itu artinya arus akan mengalir ke luar masuk dari titik dalam ‘teluk kecil’ itu, sehingga penyu tinggal mengikuti pergerakan arus ketika dia akan mendarat untuk bertelur atau ketika kembali ke tengah laut setelah proses peneluran selesai dilaksanakannya.

Pada musim bertelurnya penyu hijau, yaitu antara bulan september sampai Desember, hampir tiap malam ada beberapa penyu yang bertelur di pantai Pangumbahan ini. Minggu malam (15/09/2013) kami menyaksikan sendiri ada 7 penyu yang bertelur, itu baru di pos 1 belum di 4 pos lainnya. Hebatnya lagi, di pantai ini pada jam 7 malam sudah ada penyu mendarat untuk bertelur. Di tempat lain, umumnya penyu bertelur dimulai pada pk 11 ke atas. Ukuran penyu hijau yang mendarat dan bertelur di pantai Pangumbahan rata-rata berukuran panjang 110 cm dan lebar 65 cm dengan perkiraan berat sekitar 100 kg lebih. Tiap penyu menghasilkan telur sebanyak 100 butir. Proses bertelur sejak mendarat sampai kembali ke laut membutuhkan waktu sekitar 3 jam.

Karena Pantai Pangumbahan yang memiliki panjang garis pantai 2,5 km menjadi tempat peneluran penyu hijau maka dalam rangka menjaga kelestariannya, pantai ini telah dicadangkan sebagai kawasan konservasi. Menimbang kawasan konservasi Pangumbahan memiliki zona inti di laut dan di darat maka nomenklaturnya mengacu kepada Undang-Undang No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Umumnya kawasan konservasi yang terdiri dari hanya kolom air saja tanpa ada daratannya, maka nomenklatur yang akan dipakai adalah mengacu kepada Undang-Undang No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan.

Menurut Undang-Undang No 27 Tahun 2007, ada 4 jenis kawasan konservasi, yaitu:

1.   Suaka pesisir;

2.   Suaka pulau kecil;

3.   Taman pesisir; dan

4.   Taman pulau kecil.

Kawasan konservasi pantai Pangumbahan juga memiliki fungsi sebagai wisata konservasi maka untuk penamaannya yang diambil adalah jenis ‘taman pesisir’. Dengan nama lengkapnya: ‘Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan’. Statusnya masih ‘pencadangan’ oleh Bupati Sukabumi. Nanti setelah tersusunnya rencana pengelolaan dan terbentuknya kelembagaan yang mengelola kawasan konservasi ini, baru dapat ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan. Kawasan Konservasi yang sama dengan Pangumbahan ini adalah Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Ujung Negoro-Roban di Kab. Batang Jawa Tengah, yaitu sebagai Taman Wisata Pesisir. Bahkan untuk kawasan konservasi taman wisata pesisir Ujung Negoro-Roban berada satu level di atas Pangumbahaan karena Ujung Negoro-Roban sudah berstatus ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan. 

Dengan dijadikannya Pantai Pangumbahan sebagai kawasan konservasi bagi penyu hijau, semoga dapat memberikan ‘ketenangan’ bagi penyu hijau tersebut untuk dapat bertelur setiap saat.
Tembok batas kawasan konservasi Pantai Pangumbahan
Pantai Pangumbahan tempat peneluran penyu hijau
Bekas jalan penyu yang mau bertelur
Penyu hijau sedang bertelur
Penyu hijau selesai bertelur

Pantai-Pantai Menarik Untuk Dikunjungi di Ujung Genteng Kab. Sukabumi

Perjalanan panjang selama 8 jam dari Jakarta untuk mencapai pantai Ujung Genteng di Sukabumi sangat melelahkan karena sebagian jalan masih ada yang rusak, kurang lebar, berkelok-kelok dengan jurang menganga di sebelah kiri dan di sebelah kanan tebing curam yang sewaktu-waktu dengan mudah terjadi longsor. Untungnya, pemandangan sepanjang jalan sangat-lah menakjubkan; ada berderet-deret pohon karet milik perkebunan rakyat, ada pemandangan khas dari perkebunan teh yang seolah menyiratkan ketenangan, beberapa desa kecil yang bersahaja, lembah dengan awan yang menggantung dan ketika mau sampai di ujung perjalanan, terlihat hamparan biru samudera Hindia atau orang kita menyebutnya sebagai Laut Selatan. Pemandangan indah tadi sedikit banyak menghapus rasa bosan dan letih selama perjalanan.
Kenapa saya menulis dengan judul pantai-pantai, tidak hanya pantai saja? Karena di Kecamatan Ujung Genteng Kab. Sukabumi ada beberapa pantai tidak hanya satu. Pantai yang menarik dikunjungi dan telah populer keberadaannya di masyarakat adalah: Pantai Ujung Genteng, Pantai Cibuaya, dan Pantai Pangumbahan. Ketiga pantai tersebut memiliki fungsi dan peran masing-masing sesuai dengan karakteristik yang dimilikinya dan kondisinya masih relatif lebih alami. Hal tersebut terjadi karena kegiatan ekonomi yang mengandalkan ekosistem pantai belum banyak berkembang. Demikian juga dengan aktifitas kunjungan wisatawan.
Pantai Ujung Genteng lebih berperan sebagai tempat kegiatan perikanan berlangsung. Dimana pantai ini berbentuk teluk kecil sehingga cukup aman untuk menyandarkan perahu-perahu ikan yang mereka miliki dari terjangan ombak laut selatan yang dikenal ganas. Di pantai ini pula terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang menarik untuk dikunjungi. Ketika saya berkunjung ke TPI ini sekitaran jam 7 pagi, saya menemukan ikan pari manta yang siap dijual kepada peminatnya. Menarik, karena ikan pari manta sedang populer di kalangan pegiat lingkungan untuk tidak menangkap, memperdagangkan, dan mengkonsumsinya. Populasi ikan pari manta di dunia sudah berkurang banyak sehingga perlu dilindungi. Dan lebih baik untuk aktifitas wisata selam dibanding untuk konsumsi. Harga yang ditawarkan adalah: untuk dagingnya Rp 10 rb/kg dan untuk insangnya Rp 300 rb/kg. Wow, harga insangnya mahal sekali padahal itu hanya insang tempat dimana racun, bakteri, kuman banyak menempel disitu. Kurang logis untuk mengkonsumsinya  dan membayar semahal itu.
Pantai Cibuaya adalah destinasi bagi para penyuka surfing. Banyak turis Australia bermain surfing disini terutama pada bulan Maret sampai Juli. Ombak di pantai ini lumayan bagus untuk surfing dimana sebagaimana kita ketahui bersama bahwa ada 3 pemicu terjadinya ombak, yaitu arus pasang surut (swell), angin pantai (local wind), dan pergeseran (turun naik) lempengan bebatuan di dasar samudera. Di tempat tertentu, penggabungan (interference) antara arus pasang surut (swell) dengan angin pantai (local wind) dapat menimbulkan ombak dengan ketinggian 2 sampai 4 meter seperti yang terjadi di Pantai Cibuaya. Dan ketinggian ombak itu yang dicari oleh para surfer.
Pantai pangumbahan yang panjangnya 2,5 km adalah pantai yang telah dijadikan sebagai kawasan konservasi penyu hijau dan nama kawasan konservasi ini adalah ‘Kawasan Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan’. Karena di pantai ini, terutama pada bulan September sampai Desember, hampir setiap hari ada penyu hijau yang ke darat untuk bertelur. Hari Jumat malam (15/09/2013) di pos 1 saja kami mendapatkan ada 7 penyu yang sedang bertelur, belum di 4 pos lainnya.
Tentang penamaan Kawasan Taman Pesisir itu sendiri adalah nomenklatur yang diambil dari Undang-Undang No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Sebagaimana kita ketahui, Kawasan Konservasi yang diinisiasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan termasuk di dalamnya yang diusulkan oleh daerah, didasarkan kepada 2 undang-undang. Apabila kawasan konservasi itu lebih utama perairannya maka nomenklaturnya akan disesuaikan dengan perintah Undang-Undang No.45 tahun 2004 tentang Perikanan melalui turunannya Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 2007 tentang Pengelolaan Sumberdaya Ikan. Tetapi kalau ada daratannya juga yang menjadi bagian penting (zona inti) dari suatu kawasan konservasi seperti pantai tempat peneluran penyu, maka nomenklatur-nya akan diambil dari Undang-Undang No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Itu semua diambil demi memudahkan implementasinya di lapangan.
Jadi, ketiga pantai di Ujung Genteng Sukabumi ini sangat menantang untuk dikunjungi dan memberikan pengalaman yang bervariasi. Yuk, kita datang kesana.
Perahu penangkap ikan bersandar di pantai Ujung Genteng
Pantai Ujung Genteng yang Di belakang TPI-pun Kebersihannya Terjaga
Pasar Ikan di Ujung Genteng
Seorang Turis Australia Siap Surfing di Pantai Cibuaya
Seorang Surfer Unjuk Kebolehan di Pantai Cibuaya
Penanda Kawasan Konservasi Taman Pesisir Pantai Penyu Pangumbahan
Pantai Pangumbahan yang Disukai Penyu Hijau sebagai Tempat Bertelur
Penyu Hijau sedang Bertelur di Pantai Pangumbahan pada pk 20.10
Setelah Bertelur di Pantai Pangumbahan, Penyu Hijau ini Siap Kembali ke Laut Lagi

Selasa, 03 September 2013

Semilir Angin di Pantai Manggar Kota Balikpapan Menghilangkan Kepenatan

Untuk ukuran Kalimantan Timur, pantai Manggar “Segara Sari” yang berada 20 km dari kota Balikpapan dengan panjang 2,5 km dan berpasir putih telah menjadi tempat favorit warga Balikpapan dan sekitarnya, terutama dari kabupaten Samarinda dan Tenggarong yang wilayahnya tidak memiliki perairan laut.
Pantai Manggar cukup terawat dimana sampah tidak banyak terlihat di hamparan pasir putihnya. Itu karena pantai ini telah memiliki nilai ekonomi dimana banyak masyarakat yang memanfaatkannya untuk hiburan bahkan tempat sebagai mencari nafkahnya. Tentunya mereka akan menuntut kenyamanan dari pantai ini, walaupun karcis masuk pantai ini hanya Rp 3000 / orang. Nilai yang kecil untuk memenuhi biaya perawatannya.
Untuk menambah kesenangan pengunjung pantai ini, berbagai alat permainan air seperti banana boat, alat renang, bola sepak, bola voli dan lainnya disediakan untuk disewa. Mau sekedar leyeh-leyeh nyantai bisa juga yaitu dengan hanya menyewa selembar tikar seharga Rp 10 rb dari pagi sampai sore hari. Dan ini yang dilakukan kami. Ketika kami telah duduk-duduk di atas tikar dan semilir mulai merambah tubuh ini, seolah membuai badan untuk melepas kepenatan. Sehingga tak terasa mata langsung terpejam beberapa saat. Aku tertidur! Ini anugrah kenikmatan yang diberikan alam laut.
Bangun dari tidur, perut telah memberi signal untuk segera diisi. Kami mau makan? Mudahnya mencari makan disini, kita tinggal pilih warung mana yang disuka. Banyak warung yang menyediakan menu ikan laut bakar dengan berbagai jenis minuman. Menu yang pas buat makan siang di pinggir pantai dengan angin semilir menemani. Soal harga? Dijamin lebih murah dari restoran sederhana sekalipun yang ada di kota. satu porsi kepiting yang berisi 3 ekor hanya Rp 70 ribu, harga ikan trakulu bakar yang populer di Balikpapan hanya Rp 50 rb/ ekor, buah kelapa Rp 15rb/biji dan lainnya.
Perairan lautnya sendiri memang kelihatan berwarna kecoklatan sebagai akibat dari bawaan material tanah yang terbawa arus sungai Mahakam ke teluk Balikpapan dimana pantai Manggar menjadi bagiannya. Kita tahu sepanjang aliran sungai Mahakam telah banyak perubahan dari hutan hujan tropis alami menjadi: pemukiman, perkebunan, dan pertambangan. Sehingga apabila hujan turun, air tidak dapat banyak meresap ke dalam tanah (infiltrasi), malah akan menjadi aliran permukaan (run off). Aliran permukaan ini membawa material berupa tanah permukaan yang akan melimpas terbawa arus sampai teluk Balikpapan. Jadilah perairan teluk Balikpapan berwarna kecoklatan. Belum lagi ditambah oleh terjadinya kerusakan pada ekosistem terumbu karang yang ada di teluk Balikpapan. Usaha pemerintah untuk menjaga lingkungan teluk Balikpapan sudah banyak dilakukan, salah satunya pernah ada program Marine and Coastal Resources Management Project (MCRMP) selama jangka waktu 1997 sampai 2003. dimana beberapa program telah dilakukan, seperti: bagaimana mengelola pesisir lebih baik melalui perencanaan di tingkat desa, membuat berbagai aturan untuk pengelolaan wilayah pesisir, sampai program pemberian mata pencaharian alternatif bagi sebagian kecil masyarakat nelayan yang biasa melakukan destructive fishing. Namun, karena program itu tidak kontinyu dan kurang komitmen dari berbagai stake holder maka banyak hal yang dihasilkannya seolah menghilang. Dan berbagai kebiasaan buruk masyarakat terhadap lingkungan-pun belum beranjak menjadi lebih baik. Kita mengerti bahwa prioritas masyarakat masih kepada urusan makan sehari-hari sehingga urusan lingkungan bukan menjadi urusan utama. Kalau urusan ekonomi sudah terlampaui maka urusan lingkungan akan dengan sendirinya menjadi sesuatu yang penting dalam kehidupannya.
Semoga perekonomian kita dapat terus tumbuh sehingga lingkungan dapat lebih terjaga.
Hamparan pasir putih di pantai Manggar 'Segara Sari' di Balikpapan
 
Pantai Manggar menjadi pavorit wisata masyarakat Balikpapan dan sekitarnya
Tempat yang baik untuk melepas penat
Dalam keteduhan rindang pohon dan angin semilir menambah kenikmatan saja
Mau makan? Gampang, tinggal pilih warung mana yang diinginkan
Ikan trakulu bakar yang menjadi kesukaan warga Balikpapan Rp 50 rb/porsi
Menarik untuk berkunjung ke Pantai Manggar di Balikpapan

Senin, 02 September 2013

Kepiting Lada Hitam di Balikpapan, Enak Sekali


Rasanya kurang kumplit kalau berkunjung ke Kota Balikpapan di Kalimantan Timur tidak mampir ke salah satu restoran yang menyediakan aneka masakan dari kepiting. Maka begitu keluar dari Bandara Sepinggan kami-pun mengarahkan kendaran langsung ke restoran yang dimaksud.
Restoran Kenari yang berada di Jalan Marsda Iswahyudi sudah belasan tahun setia menyediakan berbagai kuliner dari bahan dasar kepiting. Bahkan kini kepiting olahannya tidak saja untuk dimakan di tempat tapi juga dapat dijadikan oleh-oleh untuk dibawa pulang.
Meja kursi yang tersedia mungkin bisa menampung lebih seratus pengunjung  dan karena kami datang tepat pada jam makan siang maka meja kursi yang tersedia hampir terisi penuh. Itu tanda bahwa banyak orang yang menyukai masakan kepiting di disajikan restoran ini.
Kami ber-dua belas orang memesan tiga menu kepiting yang tersedia, yaitu: kepiting masak lada hitam, kepiting masak asam manis, dan kepiting masak steam tauco. Tidak begitu lama menunggu, kepiting masak lada hitam dan kepiting masak asam manis sudah datang dan disajikan di meja kami. Tapi, untuk kepiting masak steam tauco butuh waktu setengah jam kemudian. ‘Agak lama untuk memasak kepiting steam tauco. Menunggu bumbu-bumbunya meresap ke dalam daging kepitingnya’ begitu jelas salah satu pramusaji-nya yang berasal dari Flores.
Kepiting yang dimasak disini adalah dari jenis kepiting bakau (Scylla sp) yang banyak hidup di pesisir berhutan bakau di Kalimantan. Namun, populasinya tidak sebanyak 10 tahun lalu. Kini agak susah mendapatkan jenis kepiting ini, kalau-pun ada, ukurannya kini relatif lebih kecil-kecil dibanding hasil tangkapan beberapa tahun lalu. Itu dapat dimengerti, karena tingginya perubahan fungsi lahan dari hutan bakau sebagai habitat dari kepiting bakau menjadi fungsi pemukiman, kawasan bisnis, kawasan industri, dan lainnya. Pasokan kepiting hidup kini di dapatkan tidak saja dari sekitaran Kalimantan Timur tapi juga dari wilayah Kalimantan Selatan dan wilayah lainnya. Kondisi tersebut tentunya akan berkonsekuensi terhadap semakin mahalnya harga satu porsi masakan kepiting.
Kami sangat lahap menyantap ke tiga jenis masakan kepiting yang telah tersedia di meja. Yang dimasak bumbu lada hitam, sangat terasa pedas lada hitamnya, lebih terasa dari masakan yang sama yang pernah kami cicipi di restoran lain. Rasa kepiting masak asam manis, ini tidak beda jauh dari rasa yang disajikan restoran lannya. Dan untuk rasa kepiting masak steam tauco, bagi saya ini masakan spesial. Rasa original dari daging kepitingnya sangat terasa sekali. Rasa tauco, bawang putih, dan jahenya hanya sekedar pelengkap. Itulah rasa original dari kepiting masak steam tauco. Bagi saya, ini masakan kepiting favorit saya di restoran ini. Berbeda dengan penjelasan dari empunya restoran ini: ‘jenis masakan kepiting yang paling banyak dipesan pengunjung, urutannya adalah mulai kepiting masak asam manis, kepiting masak lada hitam, baru kemudian kepiting steam tauco’. Ketika lebih lanjut saya tanyakan  kenapa pilihan pengunjung seperti itu, katanya: ‘kepiting masak steam tauco tidak tahan lama, paling hanya tahan satu hari tapi kalau kepiting asam manis dan lada hitam bisa kuat sampai 3 hari’.
Satu porsi masakan kepiting terdiri dari 3 – 4 ekor dengan berat kira-kira 1,2 kg. Harganya sama saja untuk kepiting masak apapun. Yang membedakannya hanya pilihan dari jenis jantan dan kepiting telur. Harga satu porsi masakan kepiting jantan Rp 190 ribu dan untuk masakan kepiting telur atau betina Rp 230 rb.
Untuk kami yang ber 12 orang, tiga porsi masakan kepiting yang tersedia, rasanya masih kurang. Itulah perilaku penggila rasa. Kalau sudah ketemu rasa masakan yang cocok, maka resiko terkena asam urat sekalipun sebagai akibat menyantap masakan kepiting ini-jadi lupa-. Meraih kenikmatan tentu harus siap dengan segala resiko-nya.
Kepiting asam manis menjadi favorit menyuka masakan kepiting
Kepiting masak lada hitam, terasa pedas khas-nya
Kepiting steam tauco, kesukan saya
Lahap, menghabiskan 3 porsi kepiting