Senin, 24 Februari 2014

Dua Malam Tidak Cukup Untuk Menikmati Kota Bukittinggi Sumatera Barat

Kantor Walikota Bukittinggi
Saya pernah belajar toponimy atau ilmu penamaan tempat, apakah itu penamaan jalan, gunung, sungai, lembah, selat, teluk, kampung, desa.kota dan sebagainya kepada Prof Yacob Rais (alm). Dalam kaidah toponimy, penulisan nama Kota Bukittinggi yang benar adalah disatukan bukan dipisah seperti ‘Bukit Tinggi’. Karena kalau ditulis terpisah ‘Bukit Tinggi’ itu berarti merujuk kepada sebuah bukit yang tinggi, bukan sebagai sebutan untuk sebuah nama salah satu kota.
Bukittinggi tempat kelahiran Bung Hatta
'Pusat Kota' Bukittinggi
Kota Bukittinggi di Sumatera Barat adalah kota tua dan kota sejarah, dimana sejak dahulu sudah menjadi tempat basisnya Belanda, hal tersebut dapat dilihat dari banyak bangunan yang berarsitektur Eropa sebagai peninggalan kolonialisme. Pilihan Belanda untuk tinggal di Bukittinggi dapat dimengerti, karena kota Bukittinggi berlokasi strategis yang berada dijalur jalan raya antar kota antar provinsi di pulau Sumatera serta berhawa sejuk yang suhunya berkisar antara 180-250C.
Bukittinggi juga disebut sebagai kota sejarah. Kenapa Bukittinggi disebut kota sejarah? Bukittinggi sejak zaman Belanda, zaman Jepang, dan zaman kemerdekaan selalu menjadi ‘pusat’ pemerintahan. Di zaman Hindia Belanda, Belanda membangun benteng pertahanan Fort de Kock dan menjadikan Bukittinggi sebagai ibukota  Afdeling Agam.
Di zaman Jepang, Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pemerintahan militer Jepang untuk kawasan Sumatera, bahkan sampai ke Singapura dan Thailand. Bukittinggi berkedudukan komandan militer ke 25 dengan Gubernur Militernya Mayor Jenderal Hirano Toyoji. Jepang meninggalkan jejak di Bukittinggi yaitu ‘terowongan’ atau gua atau ‘lubang’ Jepang yang lebih dikenal dengan sebutan terowongan Ateh Ngarai.
Pada zaman kemerdekaan. Di Bukittinggi tanggal 29 Agustus 1945 Mohamad Syafei atas nama rakyat Sumatera mengumumkan ‘Permakluman Kemerdekaan Indonesia’ yang mengakui kemerdekaan negara Indonesia. Jadilah Sumatera sebagai wilayah pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Bukittinggi pernah menjadi ibukota Republik Indonesia, tatkala Perang Kemerdekaan ke 2 yaitu tanggal 19 Desember 1948 sewaktu agresi Belanda ke 2. Pada waktu itu, Yogyakarta diduduki Belanda dan Soekarno-Hatta ditangkap Belanda serta diasingkan ke Pulau Bangka.  Tanggal 19 Desember 1948 di Bukittinggi terbentuklah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) sebagai penyelamat Republik Indonesia dengan ketua Mr. Sjafrudin Prawiranegara  serta wakilnya Mr T. Moh Hasan.
Selain dengan muatan sejarahnya yang tinggi. Bukittinggi telah menjadi icon wisata Sumatera Barata. Maka tidak heran ada yang berkata: apabila anda datang ke Sumatera Barat tetapi belum ke kota Bukittinggi, itu sama saja anda tidak ke Sumatera Barat. Bahkan ada plesetan atau slank word yang lebih hebat lagi: kalau anda pergi ke Bukittinggi, itu sama dengan anda telah datang di tiga negara. Apa itu? Satu, anda ke Bukittinggi, sama dengan anda datang ke air terjun Niagara di Kanada, karena di jalur Padang-Bukittinggi ada air terjun Lembah Anai. Dua, anda ke Bukittinggi sama dengan anda datang di kota London Inggris, karena di Bukittinggi ada Jam Gadang yang sama dengan jam Big Ben di London. Dan ketiga, anda datang ke Bukittinggi sama dengan anda datang ke China. Di Bukittinggi ada ‘Great Wall’ yaitu tangga yang mengular untuk menuruni Ngarai Sianok. ‘Great Wall’ di Bukittinggi mirip-mirip dengan Great Wall di China. Yuk, kita buktikan cerita itu.
Mendarat di Bandara Minangkabau di Padang
 
Perjalanan diawali dari kota Padang dimana pesawat kami mendarat di bandar udara Minangkabau menuju kota Bukittinggi yang dapat ditempuh sekitar 3 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda empat. Jalannya mulus dan indah dengan banyak kelokan. Di kanan-kiri jalan dihiasi oleh hijaunya rimbunan pepohonan, kadang sawah membentang dan diselingi oleh perkampungan dengan rumah-rumah yang sederhana yang tidak sedikit yang berarsitektur rumah khas minang. Sangat indah sangat menyenangkan. Pemandangan alam yang indah seperti ini adalah pemandangan  dari Cirebon ke Bandung atau dari Bogor ke Bandung beberapa belas bahkan puluhan tahun lalu. Sekarang di jalur menuju Bandung itu sudah tidak menarik lagi karena sudah tidak ada sawahnya yang kini sudah berganti menjadi perumahan dan bangunan-bangunan lainnya. Maka, kalau mau melihat pemandangan sawah, desa, gunung yang seperti dilukisan-lukisan mooi indie (Hindia molek) seperti yang dapat dilihat pada lukisannya  Raden Saleh, Arie Smith, Raden Abdullah, Van Dick dan lainnya, maka pergilah ke Sumatera Barat.
Lembah Anai
Suasana Sekitar Lembah Anai
Bukit hutan yang menghijau
Rel Kereta yang Bergerigi
Sekeluar dari kota Padang dan masuk kota Padang Panjang, kita sudah disuguhi pemandangan air terjun ‘Lembah Anai’, air terjun ini persis berada di pinggir jalan Padang-Bukittinggi, sehingga ramai dikunjungi orang. Air terjun alami setinggi 35 meter yang airnya datang dari Gunung Singgalang kemudian mengucur deras ke daerah patahan Sumatera yang berada di Anai. Memang terlihat sangat indah dan alami. Benar-benar suatu pemandangan seperti halnya yang terlihat di lukisan-lukisan pemandangan indah (Mooi Indie) yang banyak dijajakan di kota Bogor atau di kota Bandung. Di seberang Lembah Anai berada, terdapat jalur kereta api Padang-Padang Panjang. Yang unik dari jalur kereta api ini adalah relnya bergerigi. Demikian juga lokomotifnya. Lokomotif di jalur ini harus dapat menerabas beberapa tanjakan perbukitan, maka untuk itu, lokomotif-nya  dipasangi roda bergigi. Tidak jauh dari lokasi ‘Lembah Anai’, kita mesti mampir ke rumah makan sate padang ‘Mak Syukur’. Sate Mak  Syukur (SMS) di Padang Panjang ini sangat terkenal. Maka hukumnya wajib untuk para pelancong yang datang di Sumatera Barat untuk mampir ke ‘SMS’ ini.

Sate padang Mak Syukur di Padang Panjang
Sate Mak Syukur (SMS) sangat mengundang selera
Sate padang adalah sate dari daging atau lidah sapi yang telah dihaluskan dan dimasak, berbeda dengan sate kambing atau sapi yang umum dijajakan. Daging atau lidah sapi yang telah halus dan matang tersebut, kemudian dibakar lagi dan dibumbui dengan bumbu yang terdiri dari: tepung beras dan tepung kanji, cabe merah, bawang merah, bawang putih, lengkuas, kunyit, jahe, merica. Bumbu dengan kekentalan yang tinggi ditumpahkan kepada tusukan daging atau lidah tadi. Sangat spicy dan beraroma lengkuas, kunyit, dan jahe. Wah menantang.  Harga satu porsi yang terdiri dari 10 tusuk sate dan potongan ketupat Rp 22 ribu saja. Rumah makan ‘SMS’ ini apabila lewat jam 15 biasanya sudah habis.
Hotel Tempat Kami Menginap
Setelah kenyang dengan sate padang, kini kami tinggal menikmati perjalanan menuju kota Bukittinggi yang indah. Dan tiga jam kemudian kami sudah tiba di kota Bukittinggi. Kebetulan kami menginap di hotel ‘hill’ yang berada di tengah kota dan bersebelahan dengan ‘menara’ Jam Gadang yang terkenal itu dan telah menjadi icon wisata tidak saja untuk Kota Bukittinggi tetapi juga untuk provinsi Sumatera Barat.
Jam Gadang dari kejauhan
Memadangi Kemegahan Jam Gadang
Banyak Aktifitas Masyarakat yang Dilakukan disini
 
Delam Wisata di Sekitar Taman Jam Gadang
Sekitaran Taman Jam Gadang
Toko Cinderamata
 
Jam Gadang dibangun tahun 1926  oleh pemerintah Hindia Belanda dengan biaya sebanyak 3000 gulden, sebagai penanda bahwa di kota Bukittinggi ini adalah pusat pemerintahan Hindia Belanda untuk wilayah Sumatera bagian barat dan tengah. Jam Gadang memiliki ketinggian 26 meter dengan mesin yang sama dengan jam Big Ben di London. Yang unik dari Jam Gadang ini adalah angka penunjuk waktu pk IV tidak ditulis IV, tetapi ditulis llll. Kenapa ditulis demikian, belum ada yang tahu persis. Lokasi Jam Gadang berada di tengah kota berupa taman. Lokasi taman Jam Gadang ini ramai dijadikan tempat aktifitas rekreasi, relaksasi dan aktifitas lainnya bagi masyarakat setempat. Berada di taman Jam Gadang sangat menyenangkan karena kita bisa berinteraksi dengan masyarakat yang sedang berada disitu. Memperhatikan anak-anak yang ceria bermain atau sekedar membeli cinderamata yang banyak dijajakan di lokasi tersebut. Jalan-jalan atau beraktifitas di taman Jam Gadang bisa berlama-lama karena selain suasana kehidupan masyarakatnya yang ramah-ramah juga karena suhu udara-nya yang sejuk.
Berjalan sedikit keluar dari lokasi taman Jam Gadang, kita dapat bersantap kuliner yang sedikit unik, yaitu: nasi ketan durian yang harganya Rp 25 ribu per piring atau es cincau telur, atau yang saya suka karena aromanya yang khas adalah teh pinang telur. Kuliner lainnya yang cukup populer adalah nasi kapau, kapau adalah usus sapi yang dalamnya diisi dengan tahu dan telur. Banyak yang suka dengan nasi kapau ini.
Es Cincau Telur
Nasi Ketan Durian
Membuat Teh Pinang Telur
Teh Pinang Telur yang beraroma
 
Menikmati Kuliner sambil ngobrol. nikmat!
Pagi-pagi di keesokan harinya, kami bertandang ke benteng Fort De Kock yang satu lokasi dengan kebun binatang Bukittinggi. Benteng dengan kebun binatang dihubungkan oleh jembatan besi gantung ‘Limpapeh’, karena dua lokasi ini berada masing-masing bukit kecil. Dari lokasi benteng maupun kebun binatang dapat melihat sekitaran kota bukittinggi. Benteng Fort de Kock dibangun oleh Kapten Bauer tahun 1825 di atas bukit Jirek di Bukittinggi sebagai kubu pertahanan pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi perlawanan rakyat dalam Perang Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Ketika itu Baron Hendrick Marcus de Kock menjadi komandan de koepoen dan wakil Gubernur Jenderal pemerintah Hindia Belanda. Nama sang Gubernur Jenderal inilah yang dijadikan nama benteng pertahanan ini.
Dari Benteng Fort de Kock dapat menyeberang melalui jembatan besi gantung dengan panjang sekitar 50 meter ke lokasi kebun binatang . Nama jembatan gantung ini adalah jembatan Lampipeh. Kebun binatangnya sendiri, walaupun tidak begitu luas tetapi cukup menarik dengan beberapa koleksi binatang asal pulau Sumatera sendiri seperti: harimau, gajah, binturong dan berbagai jenis burung. Lebih menarik lagi, di lokasi ini ada replika rumah adat minang beserta ukiran kayu yang didominasi warna merah yang eksototis sekali.
Sebagian kota Bukittingggi Dilihat dari Kantor Walikota
Benteng Fort de Kock
Jembatan Gantung Lampipeh
Salah Satu Meriam Peninggalan Belanda di Fort de Kock
Kota Bukittinggi dari Jembatan Lampipeh
Replika Rumah Adat Minang di Kebun Binatang Bukittinggi
Rumah Adat Minang yang Eksotis
Harimau Sumatera salah satu koleksi Bukittinggi zoo
Selesai dari benteng Fort De Kock, kami segera menuju lokasi Ngarai Sianok. Ngarai atau lembah atau valley adalah daerah patahan Sumatera yang terkenal itu. Ngarai adalah daerah patahan yang menjadikan lokasi tanah terbelah dengan dinding terjal hampir kemiringannya 900 dan ada sungai mengalir di bawahnya. Tentu saja ngarai ini sangat indah baik memandang sekelilingnya dari bidang atas maupun ketika berada di bagian bawah ngarai. Saya takjub dengan pemandangan yang ada.
Ngarai Sianok yang Menakjubkan
 

'Great Wall' di Ngarai Sianok
Satu lokasi dengan Ngarai Sianok ini ada terowongan Jepang, yang pada waktu pendudukan jepang, ‘terowongan’ ini dijadikan pusat kegiatan militer jepang.
Pada siang harinya kami beranjak sedikit dari lokasi Ngarai Sianok yaitu menuju perkampungan di Kabupaten Agam. Saya betul-betul terkesima dengan pemandangan dan suasana perkampungan ini. Imaji saya melayang jauh ke lukisan, film dan foto-foto desa dengan petaninya yang indah-indah. Agam yang tenang dan menarik dengan segala aktifitas masyarakatnya yang dominan agraris. Ada rumah adat minang yang eksotis, ada rumah-rumah kuno peninggalan belanda, menghampar sawah yang subur, berdinding perbukitan yang menghijau. Tenang dan damai, itulah yang dirasakan oleh kami ketika berada di kampung Agam ini.
Suasana Perkampungan di Kab. Agam
Sore harinya, kami mengunjungi Pandai Sikek yaitu pengrajin kain tenun khas Sumatera Barat. Kain tenunnya sangat halus dengan motif benang emas yang dikerjakan berbulan-bulan oleh para pengrajinnya. Sebanding dengan harganya yang diatas Rp 1 jutaan.
Kain Tenun Pandai Sikek yang Menawan
Sebelum pulang ke hotel, kami mengunjungi toko kaos oblong semacam ‘dagadu’ di Jogja, atau semacam ‘joger’ di Bali. Di Bukittinggi namanya ‘Kapuyuak’ yang berarti kecoa. Kata-kata yang tertulis di kaos oblongnya disesuaikan dengan budaya Minang, seperti ‘urang awak gadang di rantau’ atau ‘orang Minang besar di perantauan’ dan lainnya yang menarik mata. Walaupun katanya, kaos ‘kapuyuak’ ini produksi dari Bandung. Selembar kaos oblong harganya ada yang Rp 60 rb dan ada yang diatas Rp 100 rb. Hampir sama dengan harga kaos oblong ‘jogger’.
Kaos oblong 'lucu' dari 'kapuyuak'
Sebenarnya kami masih besar hasrat untuk mengeksplore keindahan dan budaya kota Bukittinggi, karena masih banyak yang belum kami kunjungi dan rasakan tapi apa boleh buat, kami besok harus kembali ke Jakarta. Dua malam di Bukittinggi itu tidak cukup!