Senin, 01 September 2014

Wisata: Ke Singapura naik ferry dari Batam


Letak antara kota Batam di Provinsi Kepulauan Riau dengan Negara Singapura hanya ‘selemparan’ batu saja. Maka tidak mengherankan apabila mobilitas penduduk ke dua kota tersebut sangat tinggi. Pergerakan penduduk tersebut terjadi baik berkaitan dengan kepentingan ekonomi, sosial, maupun untuk berwisata.

Penulis ahir pekan kemarin mencoba untuk sehari menikmati kota Singapura melalui Batam, walaupun yang dapat dikunjungi hanya lokasi wisata Sentosa Islands, Universal Studio, dan Orchard Road, tapi menurut saya, tempat itu sudah dapat mewakili keinginan saya untuk menikmati wisata Singapura. Berikut sekilas pengalaman perjalanan tersebut.

Dari Jakarta kami yaitu saya dan 2 teman yang lain, sudah pesan hotel yang berada di daerah Nagoya Batam seminggu sebelumnya. Ahir pekan biasanya hotel hotel –penuh sesak-, dan kenapa memilih hotel di Nagoya? Nagoya  adalah pusat perdagangan dan pusat hiburan di kota Batam, dengan tinggal di daerah Nagoya, akan lebih memudahkan untuk menyambangi pertokoan fashion, tas, parfum, cokelat, maupun menikmati kuliner Batam. Harga kamarnya sekitar Rp 550 rb/malam. 

Sesampainya di Batam pada hari Jumat siang, kami segera menuju hotel yang sudah kami pesan sebelumnya. Naik taksi dari bandara ke hotel di daerah Nagoya, tarifnya Rp 70 rb. Sesampainya di hotel, kami segera mencari informasi penjual tiket ferry untuk menyeberang ke Singapura. Sebenarnya, tiket ferry ini banyak dijual di mana mana. Tadi sewaktu di Bandara, ada beberapa konter yang menawarkan tiket ferry menuju Singapura, tapi saya pikir kalau beli tiketnya di bandara, saya tidak banyak berkesempatan untuk banyak bertanya tentang segala hal. Toh di tempat-tempat lainnya-pun  ada, seperti di hotel, di komplek
pertokoan, dll. Dan tiap konter-konter tersebut menawarkan beberapa perusahaan/operator ferry yang menyediakan jasa penyeberangan Batam-Singapura PP. Harga tiket antara satu dengan lain operator tidak terpaut jauh. Paling-paling terpaut

maksimum sekitar Rp 20 rb saja. Kami ahirnya membeli tiket ferry tersebut di hotel tempat dimana saya menginap. Kami pilih operator ferry W*** dengan harga tiket  Rp 285 rb untuk pulang pergi dan sudah termasuk pajak penyeberangan. Pajak penyeberangan kalau dibayar tersendiri sekitar Rp 65 rb/orang. Kami akan menyeberang ke Singapura dengan ferry W*** pada hari Sabtu pk 07.30.

Dari kota Batam untuk menyeberang ke Singapura dengan naik ferry, bisa melalui beberapa terminal ferry, yaitu bisa dari terminal ferry: Batam Centre, Harbour Bay, Sekupang, dan Nongsa. Saya pilih yang melalui terminal ferry Batam Centre karena di terminal ferry

Batam Centre adalah yang paling banyak menyediakan ferry-nya. Hampir tiap satu jam sekali ada ferry yang berangkat dari Batam Centre ke Singapura. Terminal lainnya tidak sebanyak itu, malah kalau yang dari terminal ferry penyeberangan Nongsa, hanya ada satu kali per hari. Itupun nantinya ferry-nya akan merapat di dekat bandara Changi yang cukup jauh dari tujuan kami ke Singapura yaitu ke Sentosa Island, Universal Studio dan Orchard Road.

Sesampainya di terminal ferry Batam Centre, saya langsung check in di konter ferry W*** dan kami diberi boarding pass, layaknya kalau naik pesawat terbang. Kondisi terminal ferry Batam Centre termasuk bagus: dengan toko-toko yang menjual souvenir atau kebutuhan lainnya, juga restoran-restoran, semuanya ditata apik dan modern. Kamar mandinya-pun bersih. Suasananya seperti berada di bandara saja. Bagi yang belum sarapan, jangan khawatir karena disini banyak pilihan untuk bersantap. Walaupun agak ganjil, karena disini menerima pembayaran dengan mata uang dolar Singapura bahkan label harganya tertulis dalam bentuk dolar Singapura. Contohnya seperti yang tertulis di papan besar di salah satu depan gerai kopi: secangkir kopi dan sekerat roti selai seharga $1.2.

Jadwal ferry kami berangkat pk 07.30  dan pk 07, penumpang sudah dipersilakan boarding. Naik ferry tidak mendapat nomor tempat duduk, jadi kita bisa bebas memilih tempat duduk yang tersedia. Walaupun demikian, dijamin semua dapat tempat duduk, karena operator ferry hanya menjual tiketnya
maksimum sesuai jumlah kursi yang tersedia.

Boarding/ masuk ferry harus melewati bagian imigrasi terlebih dahulu. Disini harus menunjukkan paspor. Passport harus yang masih berlaku dan masuk negara Singapura seperti halnya masuk ke negara-negara Asean lainnya, tidak memerlukan visa. Cukup menunjukkan passport yang masih berlaku.

Masuk ferry ini (yang dikelola perusahaan Indonesia), memberi kesan; bersih, nyaman, ber AC, dan tidak ada penjual asongan dll. Berbeda dengan ferry yang melayani Batan – Bintan. Ferry Batam – Singapura memuaskan bagi saya.

Perjalanan Batam – Singapura ditempuh sekitar 1 jam saja. kebetulan juga cuaca sangat mendukung, tiada hujan tiada ombak yang kutemui. Setelah satu jam yang menyenangkan berlalu, kami memasuki perairan Singapura dengan ciri-
ciri yaitu terlihatnya berderet gedung-gedung tinggi di pantainya. Air lautnya-pun sangat jernih, seperti tanpa sampah, limbah sedikit-pun. Memang negara Singapura sangat ketat dalam hal limbah, sampah, dan bahan cemaran lainnya. Kemudian ferry kami merapat di terminal ‘Front Harbour’ Singapura. Terminal ferry inilah yang menjadi tujuan perjalanan dari ferry  dari beberapa terminal di Batam, kecuali ferry yang berangkat dari Nongsa yang akan merapat di terminal ferry yang berada di dekat bandara Changi.

Turun dari ferry kemudian melewati konter imigrasi Singapura. Disini ditanyakan lagi  passport-nya dan KTP Indonesia, juga ditanyakan tujuan datang ke Singapura untuk apa? Saya jawab: mau melancong, dan tempatnya di Orchard Road. Passport langsung di cap petugas imigrasi yang artinya dipersilahkan untuk melanjutkan masuk negara Singapura. Tidak susah, lancar saja.

Dari gedung kedatangan, kami berjalan kaki menuju lantai lainnya yang masih satu gedung dengan gedung kedatangan. Lantai lainnya adalah dimana tempat terminal monorel dan MRT berada. Terminal ferry
Front Habour ini cukup luas dengan banyak sekali pertokoan dan restoran, mungkin seluas satu mall di Jakarta. Yang pertama kali yang harus dilakukan setelah urusan keimigrasian selesai adalah mencari map Singapura. Map
ini sangat penting untuk menuntun perjalanan kami selama di Singapura. Kami mau ke tujuan mana, harus naik MRT ataukah monorel, bahkan bus, itu semua dapat diketahui dari informasi yang tersedia di
dalam map tersebut. Tanpa bantuan map tersebut mustahil kami akan sampai ke tempat tujuan kami. Kecuali bagi yang sudah sering datang ke Singapura. Map Singapura tersebut bisa didapatkan
dengan mudah di rak-rak informasi.


Map tersebut sangat gamblang, informatif, dan mudah dimengerti. Inilah salah satu keunggulan dari wisata Singapura


Karena tujuan pertama wisata kami adalah menuju ke Sentosa Island dan Universal Studio semacam Ancol-nya kalau di Jakarta, dan letaknya bersebelahan dengan terminal ferry Front Harbour, dan sesuai
petunjuk dari map yang kami ambil tadi, dari front harbour menuju sentosa islands dan universal studio, kami harus naik monorel yang stasiunnya berada di lantai 3. Naik monorel beserta tarif masuk
kawasan Sentosa Islands hanya $4/orang saja atau sekitar Rp 40rb.  monorelnya yang satu unitnya terdiri dua gerbong yang saling bersambungan seperti dua badan bus besar yang disatukan. Monorelnya berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang
setiap 10 menit sekali. Sangat efektif sebagai alat transportasi jarak pendek. Kami turun di Sentosa Islands, kami hanya jalan-jalan saja tidak masuk ke arena permainan, kalau mau naik arena permainan, tentunya harus membayar lagi dan lagi waktunya tidak akan mencukupi.

Waktu sudah menujukkan pk 09.30 dan perut sudah berbunyi memberi tanda sudah lapar. Saya mampir ke restoran wara laba internasional M* *, saya pesan burger kecil, kentang, dan segelas orange juice. Cukup untuk sarapan pagi ini. Dan saya bayar $8 atau Rp 80rb. Wah, untuk ukuran harga di Indonesia di restoran yang sama, harga disini termasuk cukup mahal.

Lagi enak-enaknya menyantap burger, ada hal yang membuat saya kaget, saya dikejutkan dengan adanya pemberitahuan melaui sms dari operator seluler yang saya gunakan. Dimana sms-nya memberitahukan bahwa tagihan pemakaian jaringan data dan roaming sampai saat ini sudah mencapai Rp 1.580.000,-. Wah, saya kaget, sekaget-kagetnya, baru 1,5 jam di Singapura dan saya hanya buka-buka WA, instagram, dan path tanpa upload, tagihannya sudah sebegitu besarnya. Memang, saya lupa mematikan roaming dan jaringan data di seluler saya, dan juga saya tidak melakukan registrasi roaming sebelumnya. Ini sebuah pelajaran, untuk tidak lupa registrasi terlebih dahulu ke opearator selular anda, kalau registrasi terlebih dahulu, tarifnya hanya Rp 100 rb per hari untuk bebas berinternetan. Suatu pengalaman yang berharga.

Dari Sentosa, kami naik monorel lagi menuju Universal Studio. Di Universal Studio kami hanya berfoto ria di depan globe-nya. Tidak masuk ke arena permainannya. Kami satu jam berkeliling di sekitaran Universal Studio ini dan itu sudah cukup memuaskan. Dan lagi kami-kami
tidak begitu tertarik dengan wisata artifisial seperti ini. Kami sekedar ingin tahu saja, apa itu Universal Studio yang banyak dipromosikan Singapura pada ahir ahir ini.

Dari Universal Studio, kami naik monorel lagi kembali menuju stasiun asal di Front
Harbour. Kemudian, pindah menggunakan moda transportasi MRT. Kami akan melanjutkan perjalanan dengan MRT menuju tujuan terahir perjalanan sehari di Singapura yaitu ke Orchard Road.

Naik MRT bisa memilih membeli tiket sekali jalan atau yang harian. Tapi saya kira lebih baik beli tiket yang harian, yaitu seharga $12 daripada beli tiket sekali jalan. Kalau beli tiket harian, seandainya stasiun yang dituju kelewatan, tinggal pindah jalur saja. tapi kalau beli tiket sekali jalan, mesti beli tiket lagi. Jadi repot ahirnya. Harga tiket sekali jalan $1.3.

Dari stasiun MRT di Front Harbour kami menuju statsiun penghubung di stasiun Dhoby Ghaut, dari Stasiun Dhoby Ghaut pindah MRT lain yang menuju Orchard Road. Lagi-lagi jangan lupa untuk membuka map Singapura sebelum anda naik MRT menuju tujuan anda. Tidak berapa lama kami tiba di stasiun Orchard Road dan waktu sudah menunjukkan pk 12.30. masih banyak waktu untuk window shopping, makan siang, dan lainnya.


Stasiun Orchard ini persis berada di belakang Orchard Road, kami tinggal jalan kaki 3 menit sudah sampai di plaza Tang, Takashimaya, atau Lucky Plaza. Tempat-tempat yang sangat dikenal oleh para pelancong  dari Indonesia. Lucky Plaza dikenal dengan barang-
barangnya yang kw tentu harganya-pun miring dan disini juga ada tempat makan yang sesuai selera lidah orang Indonesia.

Di Orchard Road jangan lupa minum es krim potong seharga $1,2. Dimana kalau berminat, harus rela mengantri untuk membelinya. Minum atau makan es krim potong yang
dibalut roti tawar sambil menikmati aktifitas orang-orang di sekitaran Orchard Road adalah kesenangan tersendiri.

Kami habiskan waktu di orchard Road ini sampai pk 17. Dan dari waktu yang tersedia
tersebut, kami sudah kenyang dengan window shopping, cuci mata, bersantap, dan sedikit belanja. Pk 17 kami kembali naik MRT ke stasiun Dhoby Gout, dan dari Dolby Ghaut kami pindah MRT lain menuju Stasiun Front Harbour. Di Front Harbour masih ada tersisa
sedikit waktu, kami masih bisa minum kopi dan beli coklat sebagai oleh-oleh. Kemudian pk 20, kami boarding ferry W*** lagi dimana sebelumnya harus terlebih dahulu melalui bagian imigrasi. Kemudian pk
20.30 ferry yang membawa kami kembali ke Batam.  Satu jam kemudian kami tiba di Batam Centre. Selesai sudah wisata sehari di Singapura melalui Batam.


Wisata Sehari di Singapura adalah sebuah sensasi, karena bagaima-pun kami telah melakukan perjalanan ke luar negeri! Kalau biayanya dibandingkan antara naik pesawat langsung dari Jakarta ke Singapura dengan melaui kota Batam kemudian naik ferry ke Singapura, sebenarnya tidak berbeda jauh. Cuma saja kalau melalui Batam, kami dapat wisata Batam-nya dan wisata Singapura-nya. Jadi dua-duanya dapat dinikmati. Dan lagi beberapa jenis barang yang dijual di Singapura, ternyata dapat dengan mudah bisa dibeli di Batam dan tentu harga di Batam akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga Singapura. Nah, kalau naik pesawat langsung Jakarta ke Singapura, tidak akan mendapatkan itu semua