Selasa, 18 Agustus 2015

Suatu Pagi di Pasar Terapung Lok Baintan, Kab. Banjar-Kalimantan Selatan




Menurut Hari Poerwanto (2006); Kebudayaan adalah proses adaptasi masyarakat terhadap lingkungannya. Sementara itu, keanekaragaman kebudayaan adalah disebabkan oleh lingkungan tempat tinggal mereka yang berbeda (environmental determinism). Dan menurut Koentjaraningrat (2015), wujud kebudayaan adalah diantaranya sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Pendapat para pakar itulah setidaknya yang dapat menerangkan kenapa ada pasar terapung di Kalimantan Selatan.
Kalimantan Selatan dikenal dengan sebutan ‘wilayah seribu sungai’, karena di Kalimantan Selatan setidaknya yang telah terpublikasi ada 35 sungai. Sungai Barito dan Sungai Martapura adalah diantaranya. Karena sungai ada dimana mana, maka kehidupan masyarakatnya tidak bisa terpisahkan dari sungai. Termasuk tempat transaksi (pasar) aneka kebutuhan masyarakat.
Pasar yang berada di atas badan air, baik sungai atau danau, lazim disebut pasar terapung. Pasar terapung telah menjadi icon wisata di Kalimantan Selatan.
Di sekitaran kota Banjarmasin ada 3 pasar terapung yang sudah dikenal luas, yaitu pasar terapung kuin (di kota Banjarmasin), pasar Barito, dan pasar Lok Baintan (di Kab. Banjar). Masing masing pasar terapung tersebut memiliki keunggulan sendiri-sendiri. Saya berkesempatan pada hari Rabu pagi (12/08/2015) untuk mengunjungi pasar terapung Lok Baintan.
Jam 5 pagi kami sudah bersiap di dermaga di depan Mesjid Raya di Kota Banjarmasin. Kami mengejar aktivitas pasar terapung Lok Baintan di Kab. Banjar yang dimulai selepas subuh sampai pk 07-an pagi. Dan kami naik perahu yang telah disewa pulang pergi, atau sampai siang hari seharga Rp 750 rb.
Menyusuri sungai Martapura di pagi hari dapat memberikan kesenangan tersendiri. Kita bisa menyaksikan matahari terbit (sunrise) di atas sungai, menyaksikan aktifitas  masyarakat di rumah kayu yang berderet deret di kanan kiri sungai, dan tentu aktifitas masyarakat dengan naik jukung (perahu kecil) yang berlalu lalang, ada yang mau ke ladang, ada yang mau ke pasar, atau anak anak berangkat ke sekolah. Inilah salah satu alasan kenapa kami ingin menyaksikan pasar terapung Lok Baintan di Kab. Banjar.
Dari kota banjarmasin ke Lok Baintan diperlukan setidaknya 1 jam perjalanan.
Sesampainya di pasar terapung Lok Baintan, kami segera dikelilingi puluhan ibu ibu yang sambil mengayuh jukungnya yang menawarkan dagangannya masing masing. Air sungai berwarna coklat terpendar cahaya matahari yang memantul ke wajah wajah gigih ibu ibu yang tegar menjalani kehidupannya. Mereka hebat!
Yang saya lihat, yang paling banyak ditawarkan adalah sayuran, jeruk, pisang, ubi, yang lainnya ada yang menawarkan ikan sungai segar seperti sepat siam, udang, haruan/gabus, ada juga yang menawarkan camilan seperti donat atau gorengan.
Harga harga yang ditawarkan juga sangat murah menurut ukuran kami, satu tandan pisang mas yang terdiri dari beberapa sisir hanya diminta Rp 10 rb saja, harga satu bakul jambu air hanya Rp 20 rb saja, begitu juga dengan harga jeruk bali hanya Rp 25rb untuk satu keranjang.
Sahdan, dahulunya sistem transaksi di pasar ini adalah sistem barter tidak ada transaksi memakai uang. Transaksi barter diantara ibu ibu penjual masih berlangsung walaupun hanya kadang kadang saja tetapi itu bisa terjadi kalau hari sudah siang dan dagangannya dari jenis yang tidak bisa disimpan untuk dijual keesokan harinya.
Pada pagi itu setidaknya ada 3 keluarga turis manca negara dan 3 pasang muda mudi turis manca negara juga dan beberapa turis lokal. Mereka sangat antusias menyaksikan pasar terapung ini. Dan perlu dicatat bahwa pasar terapung Lok Baintan sangat alami/natural bukan pasar terapung buatan (artifisial).
Pertanyaannya sampai berapa lama lagi kita dapat menyaksikan pasar terapung ini? Karena pembangunan infrastrustur di daratan jauh lebih cepat berkembang dibandingkan di wilayah sungai. Jembatan, pasar, jalan raya adalah target target pembangunan di wilayah seribu sungai ini. Jukung dan perahupun kini diganti oleh sepeda motor dan kendaraan roda empat. Dan budaya yang terbentuk dari aktifitas di sungai-pun akan tergantikan oleh budaya daratan.
Dari segi pariwisata, pasar terapung memiliki daya atraksi tinggi, namun bagi pelaku (ibu ibu yang berjualan) di pasar terapung, aktifitas di pasar adalah perhitungan untung dan rugi. Kalau kebanyakan ruginya, berjualan di pasar terapung akan tidak menarik lagi bagi masyarakat sekitarnya.
Setidaknya, untuk menjaga agar budaya pasar terapung terus berjalan, bagi pengunjung/turis datang ke pasar terapung, jangan hanya ambil foto foto-nya saja tetapi usahakan untuk berbelanja. Toh tidak akan banyak juga uang yang akan dikeluarkan untuk belanja di pasar terapung ini, apalagi untuk ukuran orang kota. Tapi bagi para pedagang/warga lokal di pasar terapung, itu sangat berarti sekali.
Walaupun suatu kebudayaan itu pasti akan berubah atau malah hilang. Perubahan atau hilangnya kebudayaan, bisa dikarenakan perubahan lingkungan dan karena adanya inovasi, namun dengan cara kita sendiri, kita dapat memelihara kebudayaan itu untuk tetap berjalan lebih lama lagi. Seperti,  kita menghargai para pelaku pasar terapung Lok Baintan di Kalimantan Selatan ini, dengan sedikit banyak berbelanja.

Bacaan:
Koentaraningrat. 2015. Kebudayaan Mentalitas dan Pembanguanan. Cetakan ke 21. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 163 hal.
Poerwanto, Hari. 2006. Kebudayaan dan Lingkungan. Dalam Perspektif Antropologi. Cetakan ke 3. Pustaka Pelajar. Jogjakarta. 304 hal
Jam 5 pagi, kami berangkat dari Banjarmasin pergi ke pasar terapung
 
bisa menyaksikan sunrise di atas Sungai Martapura

Toko yang baru buka


Mandi pagi

Berangkat beraktifitas

Sesampainya di lokasi pasar terapung Lok Baintan

ibu ibu pedagang menawarkan barang dagangannya
Turis asing antusias melihat aktifitas pasar terapung







Kamipun sedikit membeli buah buahan yang mereka tawarkan
Ikan asin sepat siam, sebanyak ini hanya Rp 100rb

Hari sudah siang, transaksi barter diantara pedagang

Toko/warung di pinggir sungai Martapura dengan pembelinya

Budidaya ikan patin dalam karamba jaring apung
Infrastruktur di darat jauh lebih berkembang pesat, seperti jalan raya, jembatan

Sepulang dari Lok Baintan sekitar pk 08, kami mampir di soto banjar 'Bang Amat'

Sarapan soto Banjar Bang Amat yg terkenal di Banjarmasin
Harian KOMPAS tg 20 September 2015

1 komentar: