Senin, 19 Oktober 2015

Penyu Hijau di Tanjung Bira, Kabupaten Bulukumba-Sulawesi Selatan Dilepasliarkan Kembali ke Laut



l. Tanjung Bira
Tanjung Bira ada Dimana
Tanjung Bira adalah salah satu icon wisata provinsi Sulawesi Selatan selain Tana Toraja, Makassar dan lainnya. Tanjung Bira sendiri berada di Kabupaten Bulukumba yang letaknya 190 km dari kota Makassar dan dapat ditempuh sekitar 4 – 5 jam perjalanan darat dengan menggunakan mobil pribadi. Tanjung Bira juga merupakan pelabuhan penyeberangan bagi yang mau pergi ke Selayar. Selayar sendiri dikenal sebagai tujuan wisata selam.
Pemandangan di kanan kiri jalan yang dilalui sangat indah, apalagi perjalanan ini adalah menyusuri pantai. Keluar dari kota Makassar masuk kabupaten Gowa kemudian kabupaten Takalar, di kedua kabupaten ini menghampar luas persawahan. Namun sayang, perjalanan kali ini sedang puncak puncaknya musim kemarau sehingga hamparan sawah itu menjadi hamparan tanah kosong berwarna coklat. Tanah seperti itu adalah cocok untuk

pertumbuhan budidaya buah semangka. Sehingga tidak mengherankan kalau di kanan kiri jalan poros Makassar ini banyak dijajakan buah semangka. 





Masuk Kabupaten Jeneponto, di kanan jalan menghampar terkotak kotak tambak ikan bandeng dan pada lokasi tertentu ada
sehamparan kolam kolam pembuatan garam. Kesibukan petani garam yang sedang mengepaporasi air laut untuk jadi garam dan sebagian lagi sibuk memikul karung garam yang dibawa ke pinggir jalan untuk menunggu diangkut truk truk besar.
Masuk kabupaten Bantaeng, kami disuguhi pemandangan budidaya rumput laut di pinggir pantainya dan kesibukan para petaninya yang sedang menjemur rumput laut yang baru dipanen.
Setelah melewati kota Bantaeng, baru kami masuk kabupaten Bulukumba. Suasana kental alam laut dengan kebun kelapa di pinggir pantainya sangat terasa di kabupaten ini.
Ada beberapa tempat destinasi wisata dan budaya di kabupaten Bulukumba dan destinasi ini sudah mendunia dengan terlihatnya beberapa wisatawan asing (Jepang, Eropa dan Amerika) yang berlalu lalang, yaitu:
1.   Pantai Tanjung Bira dengan pulau kecilnya yang bernama Liukang. Beragam wisata bahari bisa ditemui disini, mulai dari banana boat sampai diving
2.   Tempat pembuatan kapal pinisi dan kapal kayu lainnya. Tempat pembuatan kapal kayu di Tanjung Bira sudah terkenal ke seantero dunia,
3.    Suku Kajang. Salah satu suku bangsa di Indonesia yang mendiami daerah pedalaman kabupaten Bulukumba yang masih menganut ajaran leluhur.
Destinasi wisata tanjung bira adalah kombinasi antara wisata alam (bahari) dengan wisata budaya. Tanjung Bira adalah wilayah pantai dengan pasir putih yang halus. Di Tanjung Bira setidaknya terdapat 17 titik penyelaman, titik penyelaman yang
paling dikenal adalah: Pulau Kambing, Pulau Posi, dan Pulau Liukang. Di titik titik penyelaman tersebut umumnya visibility 15 meter, komposisi dasar laut terdiri dari terumbu karang dengan kondisi bagus. Malah di beberapa dive site bisa dijumpai
beberapa jenis ikan eksotik, seperti: pari manta, hiu, mola mola, ikan banggai (cardinal), penyu, dan lainnya.
Tarif sewa boat untuk membawa sampai di dive site dan menunggu selama 2 jam, sebesar Rp 800rb.
Tarif boat untuk ke Pulau Liukang PP sebesar Rp 500rb.


ll. Tempat Pembuatan Kapal Pinisi/Kapal Kayu
Tanjung Bira sebagai tempat pembuatan pinisi/kapal kayu sudah dikenal ke seantero dunia. Banyak pesanan  pinisi/kapal kayu dari negara negara Eropa dan Amerika, selain tentunya pesanan dari dalam negeri yang tidak sedikit.
Keahlian membuat sebuah pinisi/kapal kayu besar dan menjamin kestabilannya di laut adalah suatu  keunggulan ketrampilan yang didapat secara turun temurun dengan tetap mengikuti kaidah kaidah tradisional masyarakat mereka.
Kami mengunjungi salah satu pembuat pinisi yaitu Pak Haji Suton. Dia mengatakan: untuk membuat pinisi 50 GT, perlu waktu 6 bulan dengan sejumlah 20 m2 kayu kualitas wahid (kayu besi/kayu hitam). Untuk pinisi ukuran 50 GT harganya minimal 1 milyar. 

lll. Penyu
Beberapa fakta terkait penyu dan lingkungannya di Indonesia adalah sebagai berikut:
1.   Dari 7 jenis penyu yang ada di dunia, 6 jenis ditemukan di perairan Indonesia. Penyu-penyu yang ditemukan di Indonesia adalah jenis: penyu hijau (Chelonia mydas), pipih (Natator depressus), lekang/abu abu (Lepidochelys olivicea), belimbing (Dermochelys coriacea), sisik (Eretmochelys imbricata), dan tempayan (Caretta caretta). Hanya jenis penyu kempi (Lepidochelys kempi) yang tidak ditemukan di Indonesia,
2.   Ada 95 pantai tempat bertelurnya penyu di Indonesia. Dari 95 pantai tersebut terdapat 143 lokasi peneluran penyu. Dan  47 pantai diantaranya sudah dijadikan kawasan konservasi,
3.    Tempat peneluran penyu hijau terbesar di dunia berada di Pulau Derawan-Kalimantan Timur,
4.   Tempat peneluran penyu belimbing terbesar di dunia berada di pantai Jamursba Medi di Kabupaten Tambraw di Papua Barat,
5.   Pantai terpanjang sebagai tempat peneluran penyu di Indonesia berada di pantai Paloh- Kalimantan Barat,
6.   Tempat peneluran penyu lekang di Indonesia berada di pantai pantai di Pulau Bali,
7.   Jenis penyu pipih dan penyu tempayan tidak pernah ditemukan bertelur di pantai pantai Indonesia. Hanya ditemukan di perairan saja,
8.   Penyu yang mendarat adalah semuanya penyu berjenis kelamin betina. Semua penyu berjenis kelamin jantan hanya hidup di air, tidak pernah ke darat,
9.   Penyu hijau berfungsi untuk mengontrol rumput laut. Rumput laut yang sudah tua akan dipotong potong oleh penyu hijau. ikan menyukai rumput laut muda,
10.                     Penyu belimbing berfungsi untuk mengontrol ledakan ubur ubur. Ledakan ubur ubur di suatu perairan akan mematikan juvenile juvenile ikan. Juvenile juvenile ikan ini kelak jadi ikan target tangkapan nelayan,
11.                     Permasalahan pengelolaan penyu di Indonesia adalah: bycatch, perdagangan ilegal, marine debris, dan perubahan iklim global,
12.                     Semua jenis penyu di Indonesia berstatus dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999, dan
13.                     Semua jenis penyu masuk kedalam daftar merah IUCN dan masuk apendiks l CITES yang berarti statusnya terancam punah dan tidak boleh perdagangkan.
Populasi penyu khususnya di Indonesia memperlihatkan kecenderungan menurun. Data menunjukan jumlah sarang penyu belimbing di pantai Jamursba Medi Papua Barat dari tahun 1994 sd 2004 terjadi penurunan, begitu juga jumlah sarang penyu hijau di Sangalaki-Kaltim, jumlah sarang penyu hijau, belimbing, sisik, dan abu abu di pantai Sukamade-Taman Nasional Meru Betiri-Jatim, dan Jumlah sarang penyu hijau di pantai Paloh-Kalbar.
Penyu hijau di Tanjung Bira jumlahnya ada 20 ekor, yang masing masing 10 ekor dipelihara oleh Pak Abdul Halim dan Pak Salamudin di kolam atraksi. Paling lama penyu tersebut telah
dipelihara selama 2 tahun dengan berat bervariasi antara 40 kg sampai 110 kg dan semuanya berjenis kelamin betina.
Pak Abdul Halim adalah pengumpul ikan selain sebagai pemilik restoran di laut di pantai Tanjung Bira. Menurut cerita Pak
Abdul Halim, penyu penyu tersebut dibeli dari nelayan dimana nelayan tersebut mendapatkannya dari bycatch. Pak Abdul Halim memelihara penyu penyu tersebut di kolam ukuran 6 x 6 m2 yang berada persis di tengah restorannya yang berada di laut. Pengunjung / turis selain untuk bersantap juga bisa berenang bersama penyu di kolam tersebut atau setidaknya untuk sekedar melihat lihat.
Melalui proses panjang yang dilakukan oleh pihak Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar –Ditjen Pengelolaan Ruang Laut-Kementerian Kelautan dan Perikanan, untuk penyadartahuan kepada Pak Abdul Halim dan Pak Salamudin, bahwa status penyu itu dilindungi, yang artinya barang siapa menangkap, memelihara, memperjualbelikan, dan
Pak Salamudin, Pak Abdul Halim, dan Pak Agus dari KKP
memanfaatkan akan dikenai sangsi pidana kecuali bagi yang mendapat izin. Ahirnya Pak Abdul Halim dan Pak Salamudin secara sukarela menyerahkan 20 ekor penyu tersebut kepada BPSPL Makassar. Salut juga kepada Pak Abdul Halim dan Pak Salamudin yang telah menyerahkan penyu penyu tersebut untuk direlease kembali ke laut. KKP-pun memikirkan untuk membuat kolam terumbu karang buatan yang akan diisi oleh ikan ikan hias laut yang tidak dilindungi, agar kelangsungan hidup usaha restorannya tetap berlangsung.
Penyu penyu tersebut sebelum dilepas kembali ke laut, terlebih dahulu didata oleh pihak BPSPL Makassar dan dicek kesehatannya oleh Suprapti Dvm dari WWF Indonesia. Pendataan dan pengecekan kesehatan penyu penyu tersebut cukup memakan waktu. Malah ada salah satu penyu yang bolong punggung karapasnya yang perlu ditambal dengan adukan semen terlebih dahulu. setelah dicek kondisi dan kesehatannya, penyu penyu tersebut diberi tanda/tagging yang berisi info:
Kementerian Kelautan dan Perikanan, negara Indonesia, dan no telp yang dapat dihubungi apabila ada orang yang menemukan penyu tersebut dimanapun.




Pada pukul 15.00 WIT penyu penyu tersebut dilepasliarkan kembali ke laut. Semoga selamat
dan beranak pinak sehingga alam ini bisa tetap menghidupi para penghuninya. 






Pustaka:
Adnyana, Windia dan Creusa Hitipeuw. 2012. Panduan Melakukan Pemantauan Penyu di Pantai Peneluran di Indonesia. WWF Indonesia. Jakarta
Dermawan, Agus et all. 2015. Pedoman Teknis. Pengelolaan Konservasi Penyu. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Ditjen Kelautan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta
Sadili, Didi (ed). 2014. Biota Perairan Terancam Punah di Indonesia. Prioritas Perlindungan. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Ditjen Kelautan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta


2 komentar:

  1. penyu katanya di lindungi,smpai saat ini belum ada perhatian dari pemerintah untuk mendukung program ini,sebagaimana yg kami alami setelah 5 tahun kelompok pokmaswas yang kami kelola sampai saat ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak Irwan Irwan, kalau boleh tahu apa: nama kelompok, alamat, contack person nya?

      Hapus