Senin, 28 Maret 2016

Wisata Bahari di Pantai Bangsring Banyuwangi Jawa Timur

https://id.scribd.com/doc/306230348/Potensi-Pengembangan-Wisata-Bahari-Kab-Banyuwangi-Jawa-Timur
http://news.detik.com/berita/3207426/bangsring-underwater-destinasi-wisata-berbasis-konservasi-terumbu-karang
http://sains.kompas.com/read/2016/03/28/20000061/Bangsring.Godaan.Destinasi.Pertobatan.Laut
http://news.detik.com/berita/d-3328311/saat-konsul-jenderal-as-kepincut-wisata-bangsring-underwater
Sunrise di pantai Bangsring


Bangsring, nama desa di bibir pantai di Kabupaten Banyuwangi yang tepatnya berada di Selat Bali yang kini cukup populer terutama untuk wisatawan domestik sebagai salah satu tujuan wisata di Kabupaten Banyuwangi. Letaknya 15 km dari pelabuhan penyeberangan Ketapang ke arah Situbondo/Surabaya. Dari jalan raya Surabaya – Banyuwangi ke lokasi pantai Bangsring hanya berjarak 2 km saja, dimana sebelum sampai di Bangsring, kita akan disuguhi pemandangan asri dari perkebunan tebu dan cabai. Dulunya, kebun tebu dan kebun cabai tersebut adalah daerah pertambakan udang. Namun, karena budidaya udang mengalami banyak masalah teknis, akhirnya usaha pertambakan udang ini mengalami ‘gulung tikar’.

Sebelumnya di perairan laut Bangsring ini dikenal sebagai tempat penangkapan ikan bagi nelayan setempat dengan cara pengeboman dan penggunaan racun potas. Tapi, atas kegigihan beberapa tokoh pemuda setempat untuk mengubah pola perilaku penangkapan ikan yang merusak menjadi ramah lingkungan, kini Bangsring layak menjadi tujuan wisata selam.  Dimana terumbu karangnya sudah hampir pulih dari kerusakan. Sebelum tahun 2008, terumbu karang di laut Bangsring kerusakannya mencapai 80%.

Ragamnya jenis wisata bahari yang dapat dilakukan di Bangsring, bertambah lagi dengan adanya bantuan dari Direktorat Pesisir dan Lautan, Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil-Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2014. Dengan memberikan bantuan infrastruktur jasa kelautan berupa satu unit rumah terapung dengan beberapa kolam keramba, bantuan tersebut telah mendorong pertumbuhan ekonomi wisata di pantai Bangsring ini.

Secara umum, Banyuwangi sebagai kabupaten terluas di provinsi Jawa Timur, memang memiliki potensi kekayaan yang melimpah. Apakah itu kekayaan hutan, kekayaan laut, kekayaan hasil perkebunan, kekayaan beragam tempat wisata, kekayaan kultural, dan kekayaan-kekayaan potensi lainnya. Luas wilayah Kabupaten Banyuwangi adalah 5782,5 km2, yang terbagi menjadi wilayah: hutan 31,72%, pemukiman 21,66%, lainnya (jalan dll) 17,77%, perkebunan 14,21%, persawahan 11,53%, ladang 2,80%, dan tambak ikan 0,31%. Jangan lupa pula bahwa Taman Nasional Alas Purwo berada di Kabupaten Banyuwangi. 

Panjang pantai kabupaten Banyuwangi = 175,8 km, dimana di sepanjang pantai tersebut terdapat: pantai berpasir, karang, mangrove, pertambakan, dan lainnya. Wisata pantai yang sudah berkembang di kabupaten Banyuwangi, adalah: Plengkung sebagai tempat surfing kelas dunia, Pulau Merah, dan Sukamade.

Di pantai Bangsring, banyak jenis wisata bahari dapat dilakukan, dari mulai minum air kelapa yang segar dan bakar ikan di pinggir pantai sambil memandangi hamparan hijau Taman Nasional Bali Barat yang berada di seberang sana, bermain banana boat, berenang bersama hiu, berenang bersama ikan hias, sampai wisata menyelam. 

Sensasi tersendiri ketika ikut berenang bersama ikan hias atau ikan hiu. Ikan hias atau ikan hiu ditaruh di dalam keramba di rumah apung, dan bagi yang berminat, bisa langsung nyebur ke keramba tersebut. Jadilah kita berenang bermain main bersama ikan hias atau ikan hiu.

Wisata Pantai Bangsring dapat dikembangkan lebih jauh lagi sebagai wisata bernuansa alami. Berbeda dengan wisata pantai lainnya yang masih berada di sekitaran kota Banyuwangi yaitu Pantai Boom, yang mana di Pantai Boom ini lebih diarahkan kepada wisata artifisial. Lebih baik lagi, kalau Pulau Tabuhan, salah satu pulau kecil dari 22 pulau kecil yag dimiliki kabupaten Banyuwangi-dapat dikembangkan. Pulau Tabuhan dengan luas 5 ha, sangat potensial untuk dikembangkan sebagai wisata eksklusif. Dan peran pantai Bangsring adalah sebagai pengumpan wisatawan yang akan ke pulau Tabuhan dan juga bisa berperan untuk menampung wisata masif.
Bagaimana ke Banyuwangi? Kalau melalui jalur udara, dari Surabaya ada penerbangan satu kali per hari dari maskapai Garuda dan Wing Air. Kalau mau lewat darat, dari Surabaya bisa naik bus atau kereta, dimana waktu tempuhnya sekitar 7 jam kalau naik bus atau kendaraan pribadi dan 5 jam kalau naik kereta. Lewat darat, bisa juga dari Denpasar yang waktu tempuhnya sekitar 6 jam, dimana sekitar 45 menit diantaranya untuk waktu penyeberangan naik feri dari Gilimanuk Bali ke Ketapang Banyuwangi. 

Mendarat di Bandara Blimbingsari Banyuwangi
Kota Banyuwangi
Fasilitas di salah satu hotel di Banyuwangi
Pantai Bangsring Banyuwangi
Salah satu sudut pantai Bangsring
Naik boat menyusur pantai
menyusur pantai atau ke rumah terapung
Rumah terapung yang terkenal
mencelupkan kaki ke laut, langsung dikelilingi ikan hias
bermain banana boat
menyelam
menyelam di Bangsring
Berenang bersama hiu
segarnya kelapa muda
Oleh oleh batik dari Banyuwangi
Tsirt lukis khas Banyuwangi
Kompas Minggu 28 Maret 2016
Fery penyeberangan dari Gilimanuk Bali ke Ketapang








Rabu, 16 Maret 2016

Perikanan Sidat (Anguila Spp)

http://print.kompas.com/baca/2016/06/05/Sidat-Ikan-Panjang-Incaran-Bangsa-Asing
I. TAKSONOMI

Klasifikasi dan tata nama sidat menurut Deelder (1984) adalah sebagai berikut :

Kingdom         : Animalia

Phylum            : Chordata

Class               : Actinopterygii

Ordo                : Anguilliformes

Familia            : Anguillidae

Genus             :  Anguilla

Spesies            : Anguilla sp

Di dunia ada 22 jenis sidat, dan di wilayah Pasifik Barat (sekitar perairan Indonesia) ada  spesies ikan sidat yaitu : Anguila celebensis dan Anguila borneensis, yang merupakan jenis endemik di perairan sekitar pulau Kalimantan dan Sulawesi, Anguila interioris dan Anguila obscura yang berada di perairan sebelah utara Pulau Papua, Anguila bicolor pasifica yang dijumpai di perairan Indonesia bagian utara (Samudra Pasifik), Anguila bicolor bicolor yang berada di sekitar Samudra Hindia (di sebelah barat Pulau Sumatra dan selatan Pulau Jawa), sedangkan Anguila marmorata merupakan jenis yang memiliki sebaran sangat luas di seluruh perairan tropis. Dan Anguila reinhardtii

Ikan sidat mempunyai nama lokal yang berbeda – beda yaitu ikan moa, mengguling, uling, ikan lubang, ikan lumbon, ikan larak, ikan lelus, ikan gateng, ikan embu, ikan denong, ikan laro, dan ikan luncah (Kottelat et al, 1993 dan Sarwono, 1993)



II.  BIOLOG
     2.1  Morfologi

Anguila nebulosi
Anguila marmorata
Anguila bicolor




      Ciri dari ordo Anguilliformes menurut Mohsin dan Ambak (1983) adalah mempunyai insang yang terbuka pada bagian lateral dan satu sama lain tidak saling berhubungan. Sirip punggung (dorsal) dan sirip dubur (anal) memanjang dan menjadi satu dengan sirip ekor (caudal). Mempunyai sisik Cycloid dan maxilla bergerigi.

Famili Anguilidae merupakan ikan yang tinggal didasar perairan dengan bentuk tubuh menyerupai ular, mempunyai sisik kecil yang tersusun dalam suatu kelompok dan tersembunyi di dalam kulit. Genus Anguilla dapat dibedakan dengan genus lainnya dengan adanya sirip dada, dan awal sirip punggung yang agak jauh dari kepala, serta tutup insang terletak dekat dengan bagian dada (pectoral). Genus Anguilla merupakan satu-satunya yang termasuk family Anguillidae sehingga cirri dari genus Anguilla juga merupakan ciri dari family Anguillidae (Deedler, 1984)

.2.2  Reproduksi
Daur hidup ikan sidat dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase lautan, fase estuary, dan fase sungai. Ikan sidat memijah di laut pada kedalam lebih dari 300 m dan telurnya menetas menjadi larva setelah 38 – 45 jam dengan panjang 2.7 mm sampai 6.2 mm (Kleckner et al, 1983: Yamamoto dan Yamaguchi dalam Facey dan Avyle 1987).  Stadia ini dilampaui selama satu tahun dengan cirri – ciri tubuh seperti pita tembus pandang dengan kedua ujungnya tajam, dan lebar pada bagian tengahnya (Tesch 1977: Fahay, 1978 dalam Facey dan Avyle, 1987). Selanjutnya larva tersebut mengikuti arus ke arah pantai dan mengalami perubahan bentuk (metamorposa) menjadi ikan sidat yang tidak berpigmen  (glass eel) dengan ciri bentuk tubuh yang sama dengan ikan sidat dewasa. Glass el tersebut secara aktif bermigrasi kearah muara sungai. Segera setelah memasuki habitat tersebut pigmentasi mulai berkembang sehingga menjadi ikan sidat kecil yang disebut elver.

Migrasi kearah hulu oleh elver dilakukan setelah tahun ke dua, sebelum pigmentasi berkembang sempurna dan selanjutnya berkembang menjadi ikan sidat berwarna coklat (Brown eel, A. japonica)  atau sidat kuning (Yellow eel, A. rostrate)Sebagian besar dari daur hidup ikan sidat berada di air tawar, sekitar 15 – 30 tahun, tanpa mengalami pematangan gonad (maturasi). Maturasi terjadi bersama dengan perubahan warna tubuh dan morfologinya, menjadi bronze eel atau silver eel (sidat perak). Pada tahap terakhir dari daur hidup tersebut, ikan sidat melakukan migrasi menuruni sungai menuju ke spawning ground untuk melakukan pemijahan.

                                               Gambar. Siklus Hidup Ikan Sidat
Siklus hidup sidat

    2.3  Makanan

Makanan utama larva sidat adalah plankton, sedangkan sidat dewasa menyukai cacing, serangga, moluska, udang dan ikan lain. Sidat dapat diberi pakan buatan ketika dibudidayakan. Makanan terbaik untuk sidat pada stadia preleptochepali adalah telur ikan hiu, dengan makanan ini sidat stadia preleptochepali mampu bertahan hidup hingga mencapai stadia leptochepali.

  III.  HABITAT

Ikan sidat betina lebih menyukai perairan esturia, danau dan sungai-sungai besar yang produktif, sedangkan ikan sidat jantan menghuni perairan berarus deras dengan produktifitas perairan yang lebih rendah.  Hal ini menunjukkan bahwa perubahan produktifitas suatu perairan dapat mempengaruhi  distribusi jenis kelamin dan rasio kelamin ikan sidat.  Perubahan produktifitas juga sering dihubungkan dengan perubahan pertumbuhan dan fekunditas pada ikan sidat jantan tumbuh tidak lebih dari 44 cm dan matang gonad setelah berumur 3-10 tahun.

Ikan sidat termasuk dalam kategori ikan katadromus, ikan sidat dewasa akan melakukan migrasi kelaut untuk melakukan pemijahan, sedangkan anakan ikan sidat hasil pemijahan akan kembali lagi ke perairan tawar hingga mencapai dewasa.

Aktivitas sidat akan meningkat pada malam hari, sehingga jumlah sidat yang tertangkap pada malam hari lebih banyak daripada yang tertangkap pada siang hari.   Hal ini menunjukkan bahwa sidat cenderung memilih habitat yang memiliki salinitas rendah. Ikan sidat termasuk ikan yang mempunyai toleransi tinggi terhadap perubahan salinitas. Pengaruh salinitas terhadap migrasi ikan sidat sangat tinggi, dimana ikan menjadi sangat aktif ketika terjadi perubahan salinitas. Sidat yang sedang beruaya anadromous menunjukkan prilaku hyperaktif yang tinggi, sehingga bersifat reotropis (ruaya melawan arus). Sidat juga bersifat haphobi (menghindari massa air bersalinitas tinggi) sehingga memungkinkan ruaya melawan arus ke arah datangnya air tawar. Ikan sidat mampu beradaptasi pada kisaran suhu 12oC-31oC, sidat mengalami penurunan nafsu makan pada suhu lebih rendah dari 12oC. 

Post larva ikan sidat cenderung sebagai penghuni dasar perairan dan bersembunyi di dalam lubang, terowongan, potongan – potongan tanaman atau substrat lain sebagai perlindungan. Kondisi pasang surut air laut juga mempengaruhi elver berenang pada lapisan permukaan air pada saat pasang dan bersembunyi di dasar pada saat surut.


IV.  SEBARAN
       Wilayah penyebarannya meliputi perairan Indo-Pasifik, Atlantik dan Hindia.  Ikan sidat (Anguilla spp.) merupakan salah satu spesies ikan yang banyak ditemukan di Indonesia.  Penyebaran ikan sidat di Indonesia meliputi sepanjang pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, pantai timur Kalimantan, Kepulauan Maluku, dan Irian Jaya. Hingga saat ini telah teridentifikasi 18 spesies/sub spesies sidat di dunia, sedangkan yang tersebar di Pasific Barat sekitar Indonesia meliputi jenis-jenis Anguilla celebesensis, A. interioris, A. marmorata, A. nebulosa nebulosa, A. bicolor bicolor, A. bicolor pacifica, A. bornensis, (Ege 1939, Matsui 1972, Castle & Williamson 1974).  Khusus di Sulawesi Utara (Muara Sungai Poigar Bolaang Mongondow), ikan sidat yang ada jenis A. celebesensis, A. marmorata, A. bicolor pacifica (Arai et al. 1999; Sugeha et al. 2001).

 Di Indonesia ikan sidat diindikasikan berpijah di Selatan Pulau Jawa, hal ini didasarkan  terdapatnya larva ikan tersebut di pantai Selatan Pulau jawa. Seperti Pelabuahan Ratu dan Cilacap. Kottelat et al 1993 menyatakan bahwa leptocephali di Indonesia terdapat di sungai – sungai yang bermuara ke laut dalam yaiutu di pesisir barat daya Sumatera, pesisir selatan Jawa, pesisir timur Borneo, Sulawesi dan Bali, tetapi hampir tidak pernah dijumpai di sungai- sungai yang bermuara ke laut dangkal di Paparan Sunda.
Sebaran sidat di dunia
Sebaran sidat di Indonesia


       V. PEMANFAATAN

Ikan sidat merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, harga glass eel dapat mencapai Rp 80.000 - 150.000 per kilogram dan harga sidat ukuran konsumsi berkisar antara Rp 20.000 - 40.000 per kilogram dan laku di pasar internasional seperti Jepang, Hongkong, Singapura, Belanda, Italia dan Jerman (Affandi dan Suhenda 2003).  Menurut Budimawan (2003), ikan sidat telah dikenal sebagai jenis ikan yang sangat digemari di beberapa negara seperti Jepang, Italia, Denmark, Spanyol dan Perancis. Ikan ini dieksploitasi dan dikonsumsi pada semua ukuran, mulai stadia juvenil hingga induk.  Di negara Spanyol hidangan dengan menu glass eel merupakan hidangan yang cukup prestise sehingga harganya cukup tinggi hingga mencapai $100 – 200 per kilogram.  Nilai ekonomis yang sangat tinggi ini akan memicu eksploitasi yang berlebih yang mengakibatkan permasalahan terhadap keberlanjutan stok ikan sidat di alam.  Negara konsumsi terbesar ikan sidat adalah Jepang, dimana hingga tahun 1999 konsumsi Jepang mencapai 136.836 metrik ton, sedang produksinya hanya 22.836 metrik ton, kesenjangan antara jumlah konsumsi dan jumlah produksi ini diatasi melalui import dari negara produsen.

Di daerah Bolaang Mongondow ikan sidat stadia glass eel dimanfaatkan atau diolah sebagai makanan bakwan, dan ukuran yang besar sangat digemari oleh masyarakat sekitar karena rasanya lebih enak dan harganya lebih mahal dibandingkan dengan ikan lainnya. Data produksi ikan sidat di Danau Moat pada tahun 1978 kurang lebih 1,2 ton kemudian terjadi penurunan produksi sampai pada tahun 1988 produksi hanya sekitar 80 kg. Setelah itu data tentang jumlah produksi ikan sidat di Danau Moat tidak didapatkan. Sedangkan di Kabupaten Bolaang Mongondow tercatat data produksi sidat tahun 2002 dan 2003 berturut-turut 4,1 ton dan 4,6 ton.

VI.  STATUS KONSERVASI
     
      Dengan nilai ekonomi yang demikian tinggi, maka tekanan terhadap sumberdaya ikan sidat menjadi tidak terelakkan.  Penangkapan yang berlebihan (over fishing) terutama pada stadia glass eel dan calon induk dapat mengancam kelestariannya ditambah pula bahwa aspek budidayanya yang masih belum berkembang. Dalam rangka penyelamatan sumberdaya ikan sidat dari ancaman kepunahan akibat penangkapan lebih di alam oleh para nelayan, maka diperlukan upaya konservasi.
        IUCN
        Beberapa jenis sidat sudah masuk ke dalam daftar merah IUCN. Anguila anguila masuk katagori critically endangered (terancam punah) dan A. japonica katagori endangered (kritis), A. bicolor bicolor katagori Near Treatened (hampir terancam punah), A. marmorata masuk katagori Least Concern (kekhawatiran minimal)

        CITES
        Populasi sidat laut Atlantik, yaitu: Anguila anguila dan Anguila rostrate, dan sidat laut Pasifik, yaitu: Anguila japonica, populasinya sudah menurun drastic. Negara negara (proponen) habitat sidat sidat tersebut berusaha untuk memasukannya ke dalam list Apendiks CITES.

        NASIONAL
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19/MEN/2012 yang melarang pengeluaran Benih Sidat dari Wilayah Negara Republik Indonesia ke luar Wilayah Negara Republik Indonesia yang berukuran kurang atau sama 150 gr/ekor


Pengertian Konservasi


Konservasi itu sendiri merupakan berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi. Konservasi dalam pengertian sekarang, sering diterjemahkan sebagai the wise use of nature resource (pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana. Apabila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam beberapa batasan, sebagai berikut :

1.      Konservasi adalah menggunakan sumberdaya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (American Dictionary).

2.      Konservasi adalah alokasi sumberdaya alam antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial (Randall, 1982).

3.      Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968).

4.      Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980).

Menurut UU 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya

  • Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya
  • Berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang
  • Bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia
  • Dilakukan melalui kegiatan : 1) perlindungan sistem penyangga kehidupan; 2) Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; 3) Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya



Menurut UU 45 Tahun 2009 tentang Perikanan dan PP 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan 

  • Konservasi Sumber Daya Ikan adalah upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya ikan, termasuk ekosistem, jenis, dan genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumber daya ikan
  • Konservasi sumber daya ikan dilakukan berdasarkan asas: manfaat; keadilan; kemitraan; pemerataan; keterpaduan;  keterbukaan; efisiensi; dan kelestarian yang berkelanjutan
  • Konservasi sumber daya ikan dilakukan berdasarkan prinsip: pendekatan kehati-hatian; pertimbangan bukti ilmiah;  pertimbangan kearifan lokal; pengelolaan berbasis masyarakat;  keterpaduan pengembangan wilayah pesisir; pencegahan tangkap lebih; pengembangan alat penangkapan ikan, cara penangkapan ikan, dan pembudidayaan ikan yang ramah lingkungan; pertimbangan kondisi sosial ekonomi masyarakat; pemanfaatan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan; perlindungan struktur dan fungsi alami ekosistem perairan yang dinamis; perlindungan jenis dan kualitas genetik ikan; dan pengelolaan adaptif

    Menurut UU 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang Undang No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil
  • Konservasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah upaya pelindungan, pelestarian, dan pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta ekosistemnya untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya

Kamis, 03 Maret 2016

Biota Perairan Terancam Punah di Indonesia. Prioritas Perlindungannya


https://www.scribd.com/doc/302045387/Biota-Perairan-Terancam-Punah-Di-Indonesia-Prioritas-Perlindungan (Link Download Buku)
Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati serta tingkat endemisme yang sangat tinggi sehingga menjadi salah satu negara dengan sebutan negara megabiodiversity. Menurut Fishbase, Indonesia memiliki 4605 spesies ikan bersirip yang terdiri dari 1193 spesies ikan air tawar, 3496 spesies ikan laut, 104 spesies ikan pelagis, dan 310 spesies ikan laut dalam. Belum lagi posisi Indonesia yang berada di wilayah pusat segitiga terumbu karang dunia atau biasa disebut The Coral Triangle, yang dipopuler di masyarakat dunia dengan sebutan The Amazone Sea, yang memiliki hampir 25% dari total luasan karang dunia, dengan jumlah marga antara 70 sampai 80, serta spesies lebih dari 500, yang berarti merupakan 75% keanekaragaman terumbu karang dunia. Demikian juga dengan keanekaragaman dan luasan dari lamun, mangrove dan sumberdaya perikanan lainnya.

Betul bahwa kekayaan keanekaragaman hayati tersebut adalah aset bagi pembangunan dan kemakmuran bangsa karena sebagian besar pembangunan nasional mengandalkan kekayaan dari keanekaragaman hayati tersebut. Untuk itu sudah selayaknya apabila semua pihak ikut mengelola dengan baik dari keanekaragaman hayati tersebut. Pengelolaan yang baik diantaranya adalah pengumpulan data base yang menyeluruh, sehingga diperoleh informasi yang lengkap dan dapat digunakan sebagai landasan untuk penyusunan dan pengambilan suatu kebijakan terkait dengan spesies atau keanekaragaman tersebut. Banyak spesies biota perairan yang memiliki kekhasan habitat dan hanya hidup di lokasi tertentu (endemic), serta memiliki fungsi ekologi yang penting bagi kehidupan ini.

Saat ini, akibat dari meningkatnya kebutuhan manusia akan berbagai hal terkait sumberdaya hayati dan juga tekanan lingkungan yang semakin kuat, diperkirakan 144 spesies ikan bersirip Indonesia termasuk katagori terancam punah. Oleh sebab itu, pemerintah telah menetapkan beberapa jenis satwa dan tumbuhan yang terancam punah dan berstatus dilindungi termasuk di dalamnya dari jenis ikan, melalui Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999. Beberapa katagori ‘ikan’ yang masuk dalam daftar PP No. 7 tahun 1999, yaitu terdiri: 7 ikan bersirip, 14 spesies bivalvia, 31 spesies reptile, 30 spesies mamalia laut, 1 spesies krustacea, 1 spesies mimi, dan 1 spesies karang hitam.

Metodologi Penentuan Kriteria Biota Perairan Dilindungi

Penentuan prioritas biota perairan yang dilindungi didahului dengan menilai suatu spesies menggunakan ‘kriteria satwa yang perlu dilindungi’ yang disusun oleh Noerjito dan Maryanto (2005), sebagai berikut:

  1. Perlindungan setiap spesies supaya tidak punah dan tetap dapat hidup di alam, spesies tersebut adalah yang memiliki kriteria:

  1. Memiliki populasi rendah dan cenderung turun,
  2. Memiliki sebaran sempit,
  3. Bersifat megaherbivora
  4. Migrasi,
  5. Migrasi local,
  6. Ruaya,
  7. Memiliki ekosistem spesifik,
  8. Pemasok energi dan gizi,
  9. Memiliki ekosistem perairan laut dalam,
  10. Memiliki adaptasi rendah terhadap perubahan lingkungan,
  11. Memiliki kemampuan gerak yang lambat,
  12. Berpasangan tetap,
  13. Fekunditas rendah,
  14. Sex ratio terbatas,
  15. Stadia larva lama,
  16. Masa mengandung anak lama,
  17. Mencapai tingkat dewasa lama,
  18. Bertelur beranak (ovovivipar),
B.  Melindungi spesies yang memiliki fungsi mempertahankan keseimbangan dan kelestarian ekosistem:

  1. Stabilator ekosistem,
  2. Satwa pemancar biji,
  3. Sebaran terbatas,
  4. Pengendali populasi hama atau penyebar penyakit.
C.  Melindungi spesies yang berpotensi menghasilkan devisa, terutama yang sebarannya terbatas di Indonesia, meskipun bukan satwa endemic,
D.  Mengatur supaya spesies yang langsung dimanfaatkan oleh masyarakat secara berkelanjutan,
E.  Hanya menangkap satwa (ikan dan reptile) yang telah melewati puncak perkembangbiakannya yang dinyatakan dengan ukuran/lingkar leher, dan
F.  Tidak menangkap satwa pada masa pengembangbiakan.

Tujuan dari diterbitkannya buku ini adalah:

  1. Menginventarisasi biota perairan terancam punah dan rawan terancam punah,
  2. Menentukan prioritas biota perairan yang terancam punah dan perlu segera diberikan status dilindungi, dan
  3. Merumuskan rekomendasi tipe perlindungan spesies prioritas.

Dan buku ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai:

  1. Bahan pengambilan kebijakan terkait penetapan status perlindungannya,
  2. Informasi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung upaya konservasi serta mendukung kesehatan lingkungan kehidupan ini, dan
  3. Bahan pendidikan, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan terkait biota perairan terancam punah.


Ikan Banggai Kardinal
Hiu di Pulau Tengah Karimun Jawa-Jawa Tengah

Sidat hasil tangkapan Nelayan Jatiluhur-Jawa Barat

Morfologi Sisat

Arwana Super Red

Tentang Napoleon
Kepiting
Pari Manta
Teripang olahan/kering

Labi-labi
Teripang




Rabu, 02 Maret 2016

Pedoman Pemanfaatan Penyu dan Habitatnya. Sebagai Objek Wisata dan Edukasi Berkelanjutan



https://www.scribd.com/doc/301810322/Buku-Pedoman-Pemanfaatan-Penyu-dan-Habitatnya-Sebagai-Objek-Wisata-dan-Edukasi-Yang-Berkelanjutan (link download)
http://mediaindonesia.com/news/read/61302/merana-penyu-di-pantai-padang/2016-08-13

Pemanfaatan-Penyu-dan-Habitatnya-Sebagai-Objek-Wisata-dan-Edukasi-Yang-Berkelanjutan.
Perairan Indonesia memiliki enam dari tujuh penyu yang ada di dunia. Kecuali penyu kempi (Lepidochelys mydas) yang hanya ada di perairan Amerika Latin, sedangkan ke enam jenis penyu lainnya ada di perairan Indonesia. Ke enam jenis penyu tersebut yaitu: penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu pipih (Natator depresus), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Perairan laut Indonesia menjadi habitat penyu, baik untuk peneluran, mencari pakan, maupun sebagai tempat ruaya-nya. Habitat penyu tersebar di berbagai wilayah perairan Indonesia dengan tingkat populasi yang beragam. Namun demikian, seperti halnya populasi penyu secara umum di dunia, populasi penyu di Indonesia-pun sudah mengalami penurunan.

Populasi penyu di Indonesia mengalami ancaman kepunahan yang serius akibat dari pemanfaatan yang tidak bertanggungjawab. WWF Indonesia menyatakan: penurunan populasi penyu di Indonesia sekitar 60%, bahkan menurut Green Peace (1989), IUCN (1984) dan TRAFFIC Japan menyatakan bahwa pertambahan populasi penyu di Indonesia adalah ‘nol’ dan ini mengkhawatirkan karena dimasa yang akan datang penyu tidak ditemukan lagi di Indonesia sangat memungkinkan. Pembantaian penyu untuk diambil daging dan karapasnya dan pengambilan telur penyu untuk diperdagangkan serta dikonsumsi adalah penyebab percepatan akan kepunahan penyu tersebut. Padahal, siklus hidup penyu yang panjang yang memakan waktu sekitar 30 – 40 tahun, keberhasilan hidup dari tukik / anakan penyu yang menetas dari telur hanya 1% saja.

Karena populasinya di alam perairannya sudah sangat mengkhawatirkan, maka status penyu di Indonesia adalah dilindungi melalui Peraturan Pemerintah No. 07 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis-Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Selain diberikan status dilindungi untuk penyu, mengingat juga bahwa penyu adalah biota yang melakukan migrasi / ruaya jauh, maka dilakukan juga upaya kerjasama regional dalam tindakan konservasinya, seperti dalam wadah IOSEA-CMP (Indian Ocean and South East Asia-Conservation and Management Plan), SSME (Sulu Sulawesi Marine Ecoregion), dan BSSE (Bismarck Seas Solomon Ecoregion).

Dilain pihak, konservasi adalah menyangkut 3 hal yang merupakan satu kesatuan, yaitu perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan. Walaupun suatu biota sudah berstatus dilindungi dimana berarti biota tersebut tidak boleh ditangkap, dimanfaatkan, dan diperdagangkan baik dalam keadaan utuh maupun bagian-bagian dan derivasinya, tetapi dalam kontek konservasi harus ada aspek pemanfaatan. Perlindungan adalah melindungi proses biologis dan ekologis dari biota tersebut dapat berlangsung secara alami yang diperkuat melalui regulasi perlindungannya. Pelestarian adalah menjaga dan meningkatkan kualitas dan nilai populasi dari biota tersebut baik in-situ maupun eks-situ, sedangkan pemanfaatan adalah pemanfaatan yang lestari yang tidak merusak populasinya di alam.  Bentuk aspek pemanfaatan bagi biota yang berstatus dilindungi adalah pemanfaatan yang bersifat non ekstraktif. Salah satunya adalah pemanfaatan dalam bentuk kegiatan wisata.

Pemanfaatan penyu sebagai salah satu objek wisata seperti menyaksikan penyu bertelur, sudah banyak dilakukan di berbagai Negara, di Indonesia dapat ditemui di: Sumatera Barat, Jawa Barat, Kepulauan seribu-Jakarta, Jogjakarta, Jawa Timur, Bali, Lombok, Pangumbahan – Jawa Barat, Kepulauan Derawan – Kalimantan Timur, dan lainnya. Selain dapat memberikan nilai tambah ekonomi dari pariwisata, juga diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam konservasi penyu. Walaupun demikian, tetap saja ada kekhawatiran bagi sebagian pegiat konservasi dengan maraknya wisata penyu tersebut. Pelaksanaan wisata penyu yang tidak benar seperti salah penanganan ketika melihat penyu bertelur, melepas tukik, dan lainnya. Kesalahan tersebut yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah ekobiologi penyu seperti adanya cahaya lampu ketika penyu akan mendarat dan akan bertelur yang bisa membatalkan penyu untuk mendarat.

Buku ini yang disusun oleh: Windia Adnyana, Dwi Suprapti, Firdaus Agung, Setiono, Amehr Hakim, dan lainnya, bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada para pihak terkait dan masyarakat luas tentang tatacara pemanfaatan penyu sebagai salah objek wisata dan menjaga keberlanjutan populasinya.