Sabtu, 23 April 2016

Buku: Dugong Bukan Putri Duyung


Buku Dugong bukan Putri Duyung:
Referensi terkait:
http://sp.beritasatu.com/nasional/populasi-dugong-terancam-punah/114097

https://tekno.tempo.co/read/news/2016/04/20/061764376/dugong-terancam-ini-perannya-menjaga-ekosistem-laut

http://sains.kompas.com/read/2016/04/20/20231961/Lestarikan.Dugong.untuk.Lamun.dan.Manusia

You tube:
https://www.youtube.com/watch?v=TvNEa72uJ8I

https://www.youtube.com/watch?v=e4C_ihl-GXk

https://www.youtube.com/watch?v=PnEqkiAJnoU (download, video Dugong di Alor NTT)


Dugong lebih dikenal dengan nama duyung yang mana asal katanya dari duyung dalam bahasa melayu yang artinya perempuan laut. Sehingga di asia Tenggara, dugong lebih dikenal dengan sebutan duyung. Sebutan lain unuk dugong adalah; duyung, duyong, perempuan laut, ikan duyung, babi laut, ruyung, dan dio. Dugong di seluruh dunia sering dikaitkan dengan dongeng tentang putri duyung 9mermaid). Dugong itu sendiri yang dalam bahasa latinnya Dugon dugong merupakan ordo sirenia dan famili dari dugongidae adalah salah satu jenis dari mamalia laut yang memiliki ciri sebagaimana umumnya mamalia yang ada di daratan, yaitu: bernafas dengan paru paru, melahirkan, dan menyusui anaknya.

Habitat dugong adalah padang lamun dimana lamun merupakan makanannya. Lamun yang dimakan oleh dugong tidak hanya pucuk daunnya saja tetapi juga sampai ke akar akarnya dengan cara di’buldozer’. Keberadaan luasan lamun di indonesia semakin menyempit baik disebabkan oleh adanya degradasi lingkungan maupun karena alih fungsi dari ekosistem perairannya. Semakin menyempitnya luasan ekosistem lamun berakibat langsung terhadap keberadaan populasi dugong. Selain itu, tekanan terhadap dugong itu sendiri juga semakin meningkat terutama melalui pemanfaatan / penangkapan untuk diambil daging, gigi taring, tulang, dan air matanya.

Semua bagian dari tubuh dugong bernilai ekonomi tinggi, seperti dagingnya untuk dikonsumsi, gigi taringnya untuk pipa rokok, dan air matanya untuk parfum. Menurut Kiswara (2016); sebelum tahun 1990, populasi dugong di perairan Indonesia ada 10.000 ekor, pada tahun 1990 tinggal 1000 ekor, dan kini mungkin tersisa sedikit sekali.

IUCN sudah memasukan dugong kepada status vulnerable begitu juga di CITES yang memasukannya kedalam Apendiks 1 pada tahun 2007, dan di Indonesia sendiri, dugong berstatus dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Satwa dan Tumbuhan. Dengan status dilindungi, artinya dugong beserta bagian tubuhnya, tidak boleh ditangkap, diperdagangkan, menyimpan, dan mengkonsumsinya.

Pemanfaatan bentuk lain masih bisa dilakukan yaitu melalui pemanfaatan non ekstraktif seperti dalam bentuk wisata, pendidikan, dan penelitian. Kiswara (2016) menghitung nilai ekonomi dari satu ekor dugong, apabila diperdagangkan atau dikonsumsi hanya Rp 6 juta saja, namun apabila dijadikan kegiatan wisata, nilainya dapat mencapai Rp 6 milyar.

Konservasi melalui pelesatarian dugong diperlukan sekali, selain tindakan pelesatarian terhadap individu dugongnya juga diperlukan pelestarian terhadap habitatnya yang berupa padang lamun.

Saat ini distribusi populasi dugong di Indonesia, tersisa di wilayah: Bintan Kepulauan Riar, Alor NTT, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua.

Buku yang ditulis oleh Anugerah Nontji ini sangat berguna sekali apalagi literatur nasional terkait dugong boleh dikatakan sangat jarang. Dan saya kutip kata kata beliau pada suatu kesempatan: Tuhan menciptakan mahluk hidup di alam raya ini dan manusia tidak berhak memusnahkannya. Selamatkan dugong!
Cara makan dugong dengan membuldozer lamun
Lukisan kuno tentang dugong dari Malaysia

Legenda dugong di berbagai penjuru dunia

Aspek biologi dari dugong




Sebaran dugong di Asia Pasifik

Sebaran populasi dugong di Indonesia

Dugong sebagai makanan atau untuk atraksi wisata?

Populasi dugong, sangat menghawatirkan?

Penyelamatan baby dugong di perairan Sirenja Donggala oleh BPSPL Makassar

Penyelematan bayi dugong oleh Tim KKP



Selasa, 12 April 2016

Pedoman Teknis. Pengelolaan Konservasi Penyu

https://www.scribd.com/doc/308282163/Pedoman-Teknis-Pengelolaan-Konservasi-Penyu-1(link download buku-free)


Ahir ahir ini baik perorangan maupun lembaga, semakin banyak yang peduli terhadap konservasi penyu. Mengingat penyu adalah salah satu jenis satwa yang telah berstatus dilindungi (berdasarkan PP. No. 07 tahun 1999). Namun demikian kepedulian terhadap konservasi penyu harus sesuai dengan kaidah-kaidah standar konservasi, sehingga apa yang dilakukan orang atau lembaga terhadap konservasi penyu tersebut tidak berakibat buruk bagi kehidupan penyu itu sendiri.  Buku Pedoman Teknis: Pengelolaan Konservasi Penyu ini diterbitkan adalah untuk dijadikan pedoman atau pegangan dalam pengelolaan konservasi penyu yang benar.

Buku ini terdiri dari 3 bab, dimana bab l adalah pendahuluan , bab ll adalah tentang keadaan umum dan permasalahan penyu di Indonesia, yang terdiri dari sub bab: jenis dan sebaran penyu, dan bio ekologi penyu, dan bab lll tentang teknis pengelolaan konservasi penyu. Bab lll ini adalah batang tubuh atau substansi dari buku ini, yang terdiri dari: teknis pemantauan penyu bertelur dan penetasan telur secara alami, teknis penangkaran, teknis monitoring, teknis penandaaan / tagging, teknis penyelematan penyu di daerah migrasi, teknis patroli, teknis pembinaan habitat, dan teknis pengelolaan berbasis penyu.

Buku ini cukup komprehensif membahas segala aspek pengelolaan konservasi penyu dan diharapkan dapat memberikan arahan pengertian yang tepat untuk pengelolaaan konservasi penyu, dalam ketiadaan referensi nasional  tentang penyu.

Semoga bermanfaaat

Senin, 11 April 2016

Wisata Hiu Paus. Sebuah Ulasan Buku

https://www.scribd.com/doc/307836427/Pedoman-Wisata-Hiu-Paus (free download buku)

http://print.kompas.com/baca/2016/04/17/Raksasa-Ramah-di-Pantai-Botubarani


Informasi tentang Hiu Paus

Hiu paus atau Rhincodon typus adalah ikan yang berukuran besar dengan ciri ciri: (1) tubuh sangat besar yang bisa mencapai ukuran berat sampai 10 ton, (2) berwarna abu abu tua dengan kulit yang tebal dan memiliki guratan-guratan menonjol, (3) bentuk kepala sangat lebar dan rata, mulut sangat lebar dengan posisi di depan kepala (terminal), batang ekor pipih dan memiliki lunas yang keras (keel) di kedua sisinya, memiliki corak garis dan bercak bercak kuning atau putih kekuning kuningan di sisi tubuhnya, dan (4) ukuran tubuh antara 60 s/d 1200 cm. makanan dari hiu paus ini adalah: planton, krill, dan ikan ikan kecil seperti teri. Tapi hiu paus lebih menyukai ikan ikan kecil.

Habitat hiu paus; karena hiu paus merupakan jenis ikan yang melakukan migrasi dalam hidupnya untuk mencari makan dan suhu yang nyaman (suhu perairan tropis antara 21 - 300C), maka hiu paus dapat ditemukan di lapisan permukaan di seluruh perairan tropis kecuali di laut Mediterania atau terbentang antara 300 LU dan 350 LS pada perairan pantai hingga perairan laut lepas, baik ditemukan secara individual maupun secara berkelompok.

Sebaran hiu paus di Indonesia, hampir dapat ditemukan di seluruh perairan Indonesia, mulai dari perairan Sabang-NAD, Sumatera Barat, Pangandaran-Jawa Barat, Nusa Penida-Bali, Laut Jawa, peraiaran Kalimantan, Sulawesi, Laut Sawu, dan perairan Papua. Namun, yang sering dijumpai adalah di perairan Samudera Hindia, Laut Jawa bagian timur, Nusa Penida Bali, perairan Alor, Laut Sawu, Teluk Cendrawasih-Papua. Dan kini sedang heboh adalah adanya kemunculan hiu paus yang diperkirakan setidaknya ada 10 ekor di perairan Kab. Bone Bolango-Gorontalo. Masyarakat berduyun-duyun ingin melihat bahkan menyentuh hiu paus tersebut.

Konservasi Hiu Paus

Hiu paus Rhincodon typus merupakan salah satu biota perairan yang dilindungi. IUCN International Union for Conservation of Nature memasukkannya kedalam daftar merahnya (red list) dan tergolong rawan punah. Namun dalam CITES, hiu paus ini masuk katagori Apendiks ll yang artinya masih boleh diperdagangkan namun dengan pengawasan yang ketat. Secara nasional, hiu paus sudah berstatus dilindungi penuh melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 18 tahun 2013.

Dengan status hiu paus yaitu dilindungi penuh, itu artinya hiu paus di perairan Indonesia tidak boleh ditangkap, diperdagangkan, dan dikonsumsi. Namun, masih boleh dimanfaatkan dalam bentuk non ekstraktif sesuai azas konservasi yaitu: perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan. Perlindungan adalah menjamin proses proses ekologis antara hiu paus dengan lingkungannya dapat berlangsung secara alami dan normal sehingga hiu paus tersebut dapat terjaga dari kepunahan. Pelestarian adalah menjamin proses biologis seperti mijah/kawin, berkembang biak, pertumbuhan dapat berlangsung baik alami maupun non alami dapat berjalan dengan baik. Sedangkan pemanfaatan adalah pemanenan lestari atau kegiatan pemanfaatan non ekstraktif yang lestari dengan tetap menjaga ikan tersebut dari kepunahan.

Pemanfaatan Non Ekstraktif Hiu Paus

Pengembangan pemanfaatan hiu paus dapat dilakukan dengan mengembangkan wisata hiu paus (whale sharks watching, swimming, diving) yang berazaskan kelestarian dan keberlanjutan. Beberapa negara yang telah mengembangkan wisata hiu paus antara lain di: Ninggaloo-Australia, Donsol-Filipina, Isla Mujeres-Mexico, Mozambik, dan Maladewa/maldive. Keberhasilan pengelolaan hiu paus untuk dijadikan atraksi wisata di negara negara tersebut telah mampu menarik kunjungan wisatawan yang besar dan menghasilkan devisa yang tidak sedikit. Secara nasional-pun ada beberapa daerah yang telah mengembangkan wisata hiu paus, diantaranya di: Pantai Bentar-Probolinggo Jawa Timur, Nusa Penida-Bali, dan di teluk Cendrawasih.

Di Selat Madura khususnya di Pantai Kenjeran Surabaya, hiu paus sering terjerat alat tangkap ikan semacam bubu yang dipasang nelayan. Hiu paus terperangkap bubu karena hiu paus itu sedang mengejar atau tertarik dengan ikan ikan kecil yang ada di dalam bubu. Saat ini sedang diusahakan agar di mulut bubu tersebut dipasang tali ukuran besar yang dipasang melintang agar hiu paus tidak masuk/terjerat bubu tersebut. Usaha agar hiu paus tidak terjerat bubu adalah hasil kerjasama antara BPSPL Denpasar (salah satu UPT dibawah DITJEN PRL-KKP) dengan Dinas Perikanan Pemkot Surabaya.

Di perairan Teluk Cenderawasih, hiu paus telah dijadikan atraksi wisata. Hiu paus pada musimnya kerap datang, baik individual maupun secara bergerembol ke dekat bagan (alat tangkap ikan) yang banyak terdapat di perairan Teluk Cenderawasih. Para penjaga bagan biasanya memberi ikan ikan kecil kepada hiu paus tersebut secara langsung ke dekat mulutnya, dengan alasan daripada hiu paus tersebut merusak jaring bagan untuk mengambil ikan ikan kecil yang ada di dalam jaring bagan tersebut. Setelah diberi makan, umunya hiu paus tersebut kembali menjauh bagan. Sekarang banyak turis datang ke Teluk Cenderawasih hanya untuk diving bersama hiu paus yang berada di sekitaran bagan ikan tersebut.

Di Pantai Bentar Probolinggo-Jawa Timur, sudah lama berlangsung wisata hiu paus. Perairan Probolinggo ditengarai adalah tujuan ahir sebelum putar balik lagi dari migrasi hiu paus yang datang dari Selat Madura yang sebelumnya dari perairan Nusa Penida-Bali, dan perairan NTT. Di Probolinggo para wisatawan selain menyentuh tubuh hiu paus juga kadang-kadang ada wisatawan yang meloncat naik ke atas punggung hiu paus tersebut.

Secara umum, kemunculan hiu paus di beberapa perairan daerah di Indonesia belum dimanfaatkan untuk kegiatan wisata yang optimal dan lestari. Masyarakat setempat umumnya hanya memanfaatkan kemunculan hiu paus sebagai wisata sesaat (musiman) dan dilakukan secara swadaya tanpa mengedepankan aspek keselamatan baik untuk keselamatan wisatawannya maupun untuk hiu pausnya itu sendiri.

Tentang Isi Buku: Wisata Hiu Paus

Buku ini diterbitkan sebagai upaya untuk memberi acuan bagaimana model wisata melihat hiu paus yang benar yang mengedepankan aspek keselamatan bagi wisatawannya dengan tanpa mengabaikan aspek kesehatan dan kelestarian dari hiu paus itu sendiri.

Buku Pedoman Wisata Hiu Paus ini terdiri dari 4 bab, yaitu bab l tentang pendahuluan, bab ll tentang deskripsi hiu paus, terdiri sub bab; klasifikasi, morfologi, habitat penyebaran pola migrasi, dan tingkah laku, bab lll tentang wisata hiu paus, bab ini merupakan substansi dari buku ini, yang terdiri dari sub bab; bentuk umum wisata hiu paus, nilai ekonomi wisata hiu paus, prinsip pengembangan wisata hiu paus, tahapan pengembangan hiu paus, rancangan model pemanfaatan wisata hiu paus, wisata diving, wisata swimming, wisata watching, aturan umum wisata hiu paus, kebutuhan sarana dan prasarana, dan peta jalan (road map) pengembangan wisata hiu paus, dan bab lV sebagai penutup.

Aturan Umum Wisata Hiu Paus

Aturan berinteraksi dengan hiu paus melalui kegiatan diving, swimming, dan watching perlu dipahami baik oleh wisatawannya dan terutama oleh pengelola wisata hiu paus tersebut. Aturan utama wisata hiu paus, adalah:

1.   Jumlah kapal/perahu yang membawa wisatawan hiu paus harus dibatasi. Kapal/perahu yang diperkenankan adalah kapal/perahu yang memiliki legalitas dari pengelola,

2.   Kecepatan maksimum kapal/perahu adalah 10 knot untuk jarak 1 mil dari kawanan hiu paus dan kecepatan maksimum 2 knot untuk jarak 50 meter dari kawanan hiu paus,

3.   Perahu/kapal harus berhenti pada jarak minimum 30 meter dari hiu paus,

4.   Jumlah maksimum wisatawan hiu paus adalah 7 orang yang terdiri dari 6 orang wisatawan dan 1 orang pemandu untuk tiap ekor hiu paus-nya,

5.   Pemandu masuk ke dalam air terlebih dahulu secara perlahan-lahan tanpa menimbulkan bunyi yang keras,

6.   Durasi untuk berinteraksi dengan hiu paus, baik dalam wisata diving maupun swimming adalah maksimum 15 menit untuk setiap grup,

7.   Durasi untuk watching hiu paus maksimal 60 menit / kapal atau perahu,

8.   Wisatawan tidak diperkenankan menyentuh tubuh hiu paus,

9.   Wisatawan tidak diperkenankan memberi makan ikan hiu paus,

10.                     Pengambilan foto tidak diperkenankan menggunakan lampu kilat ( blitz), dan

11.                     Wisatawan wajib pengikuti seluruh petunjuk dan arahan pemandu.

Buku yang menarik

Tata cara wisata hiu paus

Hiu Paus diantara bagan di Teluk Cenderawasih



Senin, 04 April 2016

Buku: Profil Keanekaragaman Hayati Perairan. Seri 1: Biota Perairan Dilindungi dan Terancam Punah

https://www.scribd.com/doc/306889366/Profil-Keanekaragaman-Hayati-Perairan-Seri-1-Biota-Perairan-Dilindungi-dan-Terancam-Punah (Free-Link Download Buku)
Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar ke dua di dunia setelah negara Brazil. Laju pertambahan jumlah penduduk yang tinggi, menambah tekanan terhadap keanekaragaman hayati, baik dalam bentuk eksploitasi maupun karena degradasi lingkungan.

Sebelum terbukanya pasar untuk sumber daya hayati, baik flora, fauna, maupun ikan, diperlukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, belum diperdagangkan secara komersial. Tetapi, kini pasar menjadi lebih luas dan lebih terbuka menjadi pasar internasional. Pasar internasional umumnya memberikan harga yang lebih tinggi dibandingkan pasar lokal. Kondisi tersebut lebih memacu pemanfaatan keanekaragaman hayati melebihi daya lenting dari sumber daya tersebut, sehingga menjadikan sebagian dari sumber daya keanekaragaman hayati tersebut berada diambang kepunahan.

Dalam rangka perlindungan dan pelestarian jenis jenis biota perairan terancam punah, beberapa spesies telah ditetapkan pemerintah sebagai jenis / spesies yang berstatus dilindungi. Selain penetapan status perlindungan bagi spesies / jenis tertentu, juga pemerintah menetapkan habitat penting yang merupakan daerah pemijahan, daerah asuhan, dan daerah tempat mencari makan dari spesies / jenis tertentu tersebut sebagai kawasan konservasi.

Data dan informasi biota perairan dilindungi dan terancam punah yang dimiliki oleh berbagai instansi atau lembaga terkait, masih sangat minim dan tersebar di berbagai tempat. Padahal data dan informasi tersebut sangat diperlukan dalam rangka pengambilan kebijakan terkait dengan spesies / jenis yang bersangkutan. Biota perairan yang dimaksud dalam buku ini adalah jenis ikan, sebagaimana halnya pengertian ‘ikan’ menurur Undang Undang No 45 tahun 2009 tentang Perikanan. Pengertian ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan. ‘Ikan’ seperti menurut pengertian tersebut terdiri dari: ikan bersirip (pisces), udang, rajungan, kepiting, dan sebangsanya (crustacea), kerang, tiram, cumi-cumi, gurita, siput ,dan sebangsanya (Mollusca), ubur-ubur dan sebangsanya (coelenterata), kodok dan sebangsanya (amphibia), buaya, penyu, kura-kura, biayak, ular air, dan sebangsanya (reptilia), paus, pesut, lumba-lumba, duyung, dan sebangsanya (mammalia), rumput laut dan tumbuhan lainnya yang hidup di air (algae)

Buku ini yang terdiri dari 4 bab, yaitu: Bab 1 tentang Pendahuluan, Bab 2 tentang Status Keanekaragaman Hayati Perairan di Indonesia, Bab 3 tentang Profil Status Keanekaragaman Hayati Perairan Dilindungi dan/atau Terancam Punah, dan Bab 4 Penutup, berusaha mengkompilasi beberapa data dan informasi penting dari beberapa spesies / jenis / biota perairan, baik yang telah berstatus dilindungi ataupun yang terancam punah yang perlu untuk diberikan status perlindungannya.

Buku yang ditulis oleh Agus Dermawan, Didi Sadili dan kawan kawan, menambah khazanah ilmu pengetahuan terkait keanekaragaman hayati perairan dan dapat memberikan informasi terkini dari spesies / jenis / biota perairan yang dilindungi atau terancam punah.
Buku: Profil Keanekaragaman Hayati Perairan